Rabu, 27 April 2016

Bab 1

"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata

BAB I
SEPULUH MURID BARU

 PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas.
 Sebatang pohon filicium tua yang riang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku,
 memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada
 setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain di
 depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD.
 Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu
 miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu
 berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah
 seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah
 dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti
 ayahku, mereka berdua juga tersenyum.
 Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak
 jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali
 menghitung jumlah anak-anak yang duduk di bangku panjang. Ia demikian khawatir
 sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik
 keringat yang bertimbulan di seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang
 dikenakannya, membuat wajahnya coreng moreng seperti pameran emban bagi
 permaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kampung kami.
 “Sembilan orang … baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu…,”
 katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.
 Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan
 karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu
 ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung

 yang cepat. Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi
 seorang pria beruisa empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak
 banyak dan bergaji kecil, utnuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah
 menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai
 untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak
 berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara
 gampang bagi keluarga kami.
 “Kasihan ayahku ….”
 Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya.
 “Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginan sekolah, dan
 mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli ….”
 Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah orangtua di depanku
 mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran
 mereka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian
 laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh disana.Paraorangtua ini
 sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang hanya mampu mereka biayai
 paling tinggi sampai SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini
 mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa
 karena tak menyekolahkan anak atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru,
 tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf.
 Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali
 seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta-ronta dari  pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak
 mengenal anak beranak itu.
 Selebihnya adalah teman baikku.Trapanimisalnya, yang duduk di pangkuan
 ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa.

 Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu belitong dari sebuah
 komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga
 sekolah kampung yang paling miskin di Belitong.Adatiga alasan mengapa para orangtua
 mendaftarkan anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak
 menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya menyumbang sukarela
 semampu mereka. Kedua, karena firasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter
 yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapatkan pendadaran
 Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun.
 Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke jalan raya di
 seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru. Kami prihatin
 melihat harapan hampa itu. Maka tidk seperti suasana di SD lain yang penuh
 kegembiraan ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD
 Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak
 Harfan.
 Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas
 Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah
 hanya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di
 Belitong ini harus ditutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab
 sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para orangtua cemas karena biaya,
 dan kami, sembilan anak-anak kecil ini yang terperangkap di tengah cemas kalau-kalau kami tak 
jadi sekolah.
 Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini
 Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah
 mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid pada
 kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk
 memnuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati.
 “Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh

 orangtua yang telah pasrah. Suasana hening.
 Paraorangtua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda
 bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaiknya didaftarkan pada para juragan saja.
 Sedangkan aku dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada
 orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah
 tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat
 kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan
 satu murid. Kami menunduk dalam-dalam.
 Saat itu sudah pukkul sebelas kuranglimadan Bu Mus semakin gundah.Lima
 tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia cintai dan tiga puluh dua tahun
 pengabdian tanpa pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu
 ini.
 “Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia
 sudah tak bisa berpikir jernih. Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah
 diketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.
 Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewatlimadan jumlah murid
 tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku
 melepaskan lengan ayahku dari pundakku.Saharamenangis terisak-isak mendekap
 ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu,
 kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air minum, dan tas
 punggung yang semuanya baru.
 Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalami mereka satu per satu.
 Sebuah pemandangan yang pilu.Paraorangtua menepuk-nepuk bahunya untuk
 membesarkan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak
 Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan
 pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan

 kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak
 sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu.
 “Harun!”
 Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjalan
 terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang
 putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf  x sehingga jika berjalan 
seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita gemuk setengah
 baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka
 sahabat kami semua, yang sudah berusialimabelas tahun dan agak terbelakang
 mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri
 kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan menggandengnya.
 Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.
 “Bapak Guru …,” kata ibunya terengah-engah.
 “Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di PulauBangka, dan kami tak
 punya biaya untuk menyekolahkannya kesana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di
 sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku ….”
 Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang-panjang.
 Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya.
 “Genap sepuluh orang …,” katanya.
 Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak.Saharaberdiri tegak
 merapikan lipatan jilbabnya dan menyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk
 lagi. Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya
 yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar