"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata
BAB II
ANTEDILUVIUM
IBU Muslimah yang beberapa menit lalu sembap, gelisah, dan coreng-moreng kini
menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum. Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan
posturnya yang jangkung persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarna bunga
crinum demikian pula bau bajunya, persis crinum yang mirip bau vanili. Sekarang dengan
ceria beliau mengatur tempat duduk kami.
Bu Mus mendekati setiap orangtua murid di bangku panjang tadi, berdialog
sebentar dengan ramah, dan mengabsen kami. Semua telah masuk ke dalam kelas, telah
mendapatkan teman sebangkunya masing-masing, kecuali aku dan anak laki-laki kecil
kotor berambut keriting merah yang tak kukenal tadi. Ia tak bisa tenang. Anak ini berbau
hangus seperti karet terbakar.
“Anak Pak Cik akan sebangku dengan Lintang,” kata Bu Mus pada ayahku.
Oh, itulah rupanya namanya, Lintang, sebuah nama yang aneh.
Mendengar keputusan itu Lintang meronta-ronta ingin segera masuk kelas.
Ayahnya berusaha keras menenangkannya, tapi ia memberontak, menepis pegangan
ayahnya, melonjak, dan menghambur ke dalam kelas mencari bangku kosongnya sendiri.
Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang,
tak mau turun lagi. Ayahnya telah melepaskan belut yang licin itu, dan anaknya baru saja
meloncati nasib, merebut pendidikan.
Bu Mus menghampiri ayah Lintang. Pria itu berpotongan seperti pohon cemara
angin yang mati karena disambar petir: hitam, meranggas, kurus, dan kaku. Beliau adalah
seorang nelayan, namun pembukaan wajahnya yang mirip orang Bushman adalah raut
wajah yang lembut, baik hati, dan menyimpan harap. Beliau pasti termasuk dalam
sebagian besar warga negaraIndonesiayang menganggap bahwa pendidikan bukan hak
asasi.
Tidak seperti kebanyakan nelayan, nada bicaranya pelan. Lalu beliau bercerita
pada Bu Mus bahwa kemarin sore kawanan burung pelintang pulau mengunjungi pesisir.
Burung-burung keramat itu hinggap sebentar di puncak pohon ketapang demi menebar
pertanda bahwa laut akan diaduk badai. Cuaca cenderung semakin memburuk akhir-akhir
ini maka hasil melaut tak pernah memadai. Apalagi ia hanya semacam petani penggarap,
bukan karena ia tak punya laut, tapi karena ia tak punya perahu.
Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu
terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini
beliau menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak
akan menjadi seperti dirinya. Lintang akan duduk di samping pria kecil berambut ikal
yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi setiap hari naik sepeda. Jika
panggilan nasibnya memang harus menjadi nelayan maka biarkan jalan kerikil batu
merah empat puluh kilometer mematahkan semangatnya. Bau hangus yang kucium tadi
ternyata adalah bau sandal cunghai, yakni sandal yang dibuat dari ban mobil, yang aus
karena Lintang terlalu jauh mengayuh sepeda.
Keluarga Lintang berasal dari Tanjong Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut.
Menuju kesanaharus melewati empat kawasan pohon nipah, temapt berawa-rawa yang
dianggap seram di kampung kami. Selain itu disanajuga tak jarang buaya sebesar
pangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis dapat dikatakan
sebagai wilayah paling timur diSumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman
Pulau Belitong. Bagi Lintang,kotakecamatan, tempat sekolah kami ini, adalah
metropolitan yang harus ditempuh dengan sepeda sejak subuh. Ah! Anak sekecil itu ….
Ketika aku menyusul Lintang ke dalam kelas ia menyalamiku dengan kuat seperti
pegangan tangan calon mertua yang menerima pinangan. Energi yang berlebihan di
tubuhnya serta-merta menjalar padaku laksana tersengat listrik. Ia berbicara tak henti henti penuh
minat dengan dialek Belitong yang lucu, tipikal orang Belitong pelosok. Bola
matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Ia seperti pilea, bunga meriam itu,
yang jika butiran air jatuh di atas daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan,
mekar, dan penuh daya hidup. Di dekatnya, aku merasa seperti ditantang mengambil
ancang-ancang untuk sprint seratus meter. Sekencang apa engkau berlari? Begitulah
makna tatapannya.
Aku sendiri masih bingung. Terlalu banyak perasaan untuk ditanggung seorang
anak kecil dalam waktu demikian singkat. Cemas, senang, gugup, malu, teman baru, guru
baru … semuanya bercampur aduk. Ditambah lagi satu perasaan ngilu karena sepasang
sepatu baru yang dibelikan ibuku. Sepatu ini selalu kusembunyikan ke belakang. Aku
selalu menekuk lututku karena warna sepatu itu hitam bergaris-garis putih maka ia
tampak seperti sepatu sepak bola, jelek sekali. Bahannya pun dari plastik yang keras.
Abang-abangku sakit perut menahan tawa melihat sepatu itu waktu kami sarapan pagi
tadi. Tapi pandangan ayahku menyuruh mereka bungkam, membuat perut mereka kaku.
Kakiku sakit dan hatiku malu dibuat sepatu ini.
Sementara itu, kepala Lintang terus berputar-putar seperti burung hantu. Baginya,
penggaris kayu satu meter, vas bunga tanah liat hasil prakarya anak kelas enam di atas
meja Bu Mus, papan tulis lusuh, dan kapur tumpul yang berserakan di atas lantai kelas
yang sebagian telah menjadi tanah, adalah benda-benda yang menakjubkan.
Kemudian kulihat lagi pria cemara angin itu. Melihat anaknya demikian bergairah
ia tersenyum getir. Aku mengerti bahwa pira yang tak tahu tanggal dan bulan
kelahirannya itu gamang membayangkan kehancuran hati anaknya jika sampai drop out
saat kelas dua atau tiga SMP nanti karena alasan klasik: biaya atau tuntutan nafkah. Bagi
beliau pendidikan adalah enigma, sebuah misteri. Dari empat garis generasi yang
diingatnya, baru Lintang yang sekolah. Generasi kelima sebelumnya adalah masa
antediluvium, suatu masa yang amat lampau ketika orang-orang Melayu masih berkelana
sebagai nomad. Mereka berpakaian kulit kayu dan menyembah bulan.
UMUMNYA Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kami berdasarkan
kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal.Trapani
duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti
para penaltun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman.Trapanitak tertarik
dengan kelas, ia mencuri-curi pandang ke jendela, melirik kepala ibunya yang muncul
sekali-sekali di antara kepala orangtua lainnya.
Tapi Borek (bacanya Bore’, “e”-nya itu seperti membaca elang, bukan seperti
menyebut “e” pada kata edan, dan “k”-nya itu bukan “k” penuh, Anda tentu paham
maksud saya) dan Kucai didudukkan berdua bukan karena mereka mirip tapi karena
sama-sama susah diatur. Baru beberapa saat di kelas Borek sudah mencoreng muka
Kucai dengan penghapus papan tulis. Tingkah ini diikutiSaharayang sengaja
menumpahkan air minum A Kiong sehingga anak Hokian itu menangis sejadi-jadinya
seperti orang ketakutan dipeluk setan. N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim
Ramdhani Fadillah, gadis kecil berkerudung itu, memang keras kepala luar biasa.
Kejadian itu menandai perseteruan mereka yang akan berlangsung akut bertahun-tahun.
Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan yang menyenangkan pagi itu.
Sebaliknya, bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampai puluhan tahun
mendatang karena pagi itu aku melihat Lintang dengan canggung menggenggam sebuah
pensil besar yang belum diserut seperti memegang sebilah belati. Ayahnya pasti telah
keliru membeli pensil karena pensil itu memiliki warna yang berbeda di kedua ujungnya.
Salah satu ujungnya berwarna merah dan ujung lainnya biru. Bukankah pensil semacam
itu dipakai para tukang jahit untuk menggaris kain? Atau para tukang sol sepatu untuk
membuat garis pola pada permukaan kulit? Sama sekali bukan untuk menulis.
Buku yang dibeli juga keliru. Buku bersampul biru tua itu bergaris tiga. Bukankah
buku semacam itu baru akan kami pakai nanti saat kelas dua untuk pelajaran menulis
rangkai indah? Hal yang tak akan pernah kulupakan adalah bahwa pagi itu aku
menyaksikan seorang anak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinya
memegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiap apa pun
yang ditulisnya merupakan buah pikiran yang gilang gemilang, karena nanti ia—seorang
anak miskin pesisir—akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskin ini sebab
ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur
hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar