Rabu, 27 April 2016

Bab 2

"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata

BAB II
ANTEDILUVIUM

 IBU Muslimah yang beberapa menit lalu sembap, gelisah, dan coreng-moreng kini
 menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum. Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan
 posturnya yang jangkung persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarna bunga
 crinum demikian pula bau bajunya, persis crinum yang mirip bau vanili. Sekarang dengan
 ceria beliau mengatur tempat duduk kami.
 Bu Mus mendekati setiap orangtua murid di bangku panjang tadi, berdialog
 sebentar dengan ramah, dan mengabsen kami. Semua telah masuk ke dalam kelas, telah
 mendapatkan teman sebangkunya masing-masing, kecuali aku dan anak laki-laki kecil
 kotor berambut keriting merah yang tak kukenal tadi. Ia tak bisa tenang. Anak ini berbau
 hangus seperti karet terbakar.
 “Anak Pak Cik akan sebangku dengan Lintang,” kata Bu Mus pada ayahku.
 Oh, itulah rupanya namanya, Lintang, sebuah nama yang aneh.
 Mendengar keputusan itu Lintang meronta-ronta ingin segera masuk kelas.
 Ayahnya berusaha keras menenangkannya, tapi ia memberontak, menepis pegangan
 ayahnya, melonjak, dan menghambur ke dalam kelas mencari bangku kosongnya sendiri.
 Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang,
 tak mau turun lagi. Ayahnya telah melepaskan belut yang licin itu, dan anaknya baru saja
 meloncati nasib, merebut pendidikan.
 Bu Mus menghampiri ayah Lintang. Pria itu berpotongan seperti pohon cemara
 angin yang mati karena disambar petir: hitam, meranggas, kurus, dan kaku. Beliau adalah
 seorang nelayan, namun pembukaan wajahnya yang mirip orang Bushman adalah raut
 wajah yang lembut, baik hati, dan menyimpan harap. Beliau pasti termasuk dalam
 sebagian besar warga negaraIndonesiayang menganggap bahwa pendidikan bukan hak

 asasi.
 Tidak seperti kebanyakan nelayan, nada bicaranya pelan. Lalu beliau bercerita
 pada Bu Mus bahwa kemarin sore kawanan burung pelintang pulau mengunjungi pesisir.
 Burung-burung keramat itu hinggap sebentar di puncak pohon ketapang demi menebar
 pertanda bahwa laut akan diaduk badai. Cuaca cenderung semakin memburuk akhir-akhir
 ini maka hasil melaut tak pernah memadai. Apalagi ia hanya semacam petani penggarap,
 bukan karena ia tak punya laut, tapi karena ia tak punya perahu.
 Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu
 terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini
 beliau menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak
 akan menjadi seperti dirinya. Lintang akan duduk di samping pria kecil berambut ikal
 yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi setiap hari naik sepeda. Jika
 panggilan nasibnya memang harus menjadi nelayan maka biarkan jalan kerikil batu
 merah empat puluh kilometer mematahkan semangatnya. Bau hangus yang kucium tadi
 ternyata adalah bau sandal cunghai, yakni sandal yang dibuat dari ban mobil, yang aus
 karena Lintang terlalu jauh mengayuh sepeda.
 Keluarga Lintang berasal dari Tanjong Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut.
 Menuju kesanaharus melewati empat kawasan pohon nipah, temapt berawa-rawa yang
 dianggap seram di kampung kami. Selain itu disanajuga tak jarang buaya sebesar
 pangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis dapat dikatakan
 sebagai wilayah paling timur diSumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman
 Pulau Belitong. Bagi Lintang,kotakecamatan, tempat sekolah kami ini, adalah
 metropolitan yang harus ditempuh dengan sepeda sejak subuh. Ah! Anak sekecil itu ….
 Ketika aku menyusul Lintang ke dalam kelas ia menyalamiku dengan kuat seperti
 pegangan tangan calon mertua yang menerima pinangan. Energi yang berlebihan di
 tubuhnya serta-merta menjalar padaku laksana tersengat listrik. Ia berbicara tak henti henti penuh
minat dengan dialek Belitong yang lucu, tipikal orang Belitong pelosok. Bola

 matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Ia seperti pilea, bunga meriam itu,
 yang jika butiran air jatuh di atas daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan,
 mekar, dan penuh daya hidup. Di dekatnya, aku merasa seperti ditantang mengambil
 ancang-ancang untuk sprint seratus meter. Sekencang apa engkau berlari? Begitulah
 makna tatapannya.
 Aku sendiri masih bingung. Terlalu banyak perasaan untuk ditanggung seorang
 anak kecil dalam waktu demikian singkat. Cemas, senang, gugup, malu, teman baru, guru
 baru … semuanya bercampur aduk. Ditambah lagi satu perasaan ngilu karena sepasang
 sepatu baru yang dibelikan ibuku. Sepatu ini selalu kusembunyikan ke belakang. Aku
 selalu menekuk lututku karena warna sepatu itu hitam bergaris-garis putih maka ia
 tampak seperti sepatu sepak bola, jelek sekali. Bahannya pun dari plastik yang keras.
 Abang-abangku sakit perut menahan tawa melihat sepatu itu waktu kami sarapan pagi
 tadi. Tapi pandangan ayahku menyuruh mereka bungkam, membuat perut mereka kaku.
 Kakiku sakit dan hatiku malu dibuat sepatu ini.
 Sementara itu, kepala Lintang terus berputar-putar seperti burung hantu. Baginya,
 penggaris kayu satu meter, vas bunga tanah liat hasil prakarya anak kelas enam di atas
 meja Bu Mus, papan tulis lusuh, dan kapur tumpul yang berserakan di atas lantai kelas
 yang sebagian telah menjadi tanah, adalah benda-benda yang menakjubkan.
 Kemudian kulihat lagi pria cemara angin itu. Melihat anaknya demikian bergairah
 ia tersenyum getir. Aku mengerti bahwa pira yang tak tahu tanggal dan bulan
 kelahirannya itu gamang membayangkan kehancuran hati anaknya jika sampai drop out
 saat kelas dua atau tiga SMP nanti karena alasan klasik: biaya atau tuntutan nafkah. Bagi
 beliau pendidikan adalah enigma, sebuah misteri. Dari empat garis generasi yang
 diingatnya, baru Lintang yang sekolah. Generasi kelima sebelumnya adalah masa
 antediluvium, suatu masa yang amat lampau ketika orang-orang Melayu masih berkelana
 sebagai nomad. Mereka berpakaian kulit kayu dan menyembah bulan.

 UMUMNYA Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kami berdasarkan
 kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal.Trapani
 duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti
 para penaltun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman.Trapanitak tertarik
 dengan kelas, ia mencuri-curi pandang ke jendela, melirik kepala ibunya yang muncul
 sekali-sekali di antara kepala orangtua lainnya.
 Tapi Borek (bacanya Bore’, “e”-nya itu seperti membaca elang, bukan seperti
 menyebut “e” pada kata edan, dan “k”-nya itu bukan “k” penuh, Anda tentu paham
 maksud saya) dan Kucai didudukkan berdua bukan karena mereka mirip tapi karena
 sama-sama susah diatur. Baru beberapa saat di kelas Borek sudah mencoreng muka
 Kucai dengan penghapus papan tulis. Tingkah ini diikutiSaharayang sengaja
 menumpahkan air minum A Kiong sehingga anak Hokian itu menangis sejadi-jadinya
 seperti orang ketakutan dipeluk setan. N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim
 Ramdhani Fadillah, gadis kecil berkerudung itu, memang keras kepala luar biasa.
 Kejadian itu menandai perseteruan mereka yang akan berlangsung akut bertahun-tahun.
 Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan yang menyenangkan pagi itu.
 Sebaliknya, bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampai puluhan tahun
 mendatang karena pagi itu aku melihat Lintang dengan canggung menggenggam sebuah
 pensil besar yang belum diserut seperti memegang sebilah belati. Ayahnya pasti telah
 keliru membeli pensil karena pensil itu memiliki warna yang berbeda di kedua ujungnya.
 Salah satu ujungnya berwarna merah dan ujung lainnya biru. Bukankah pensil semacam
 itu dipakai para tukang jahit untuk menggaris kain? Atau para tukang sol sepatu untuk
 membuat garis pola pada permukaan kulit? Sama sekali bukan untuk menulis.
 Buku yang dibeli juga keliru. Buku bersampul biru tua itu bergaris tiga. Bukankah
 buku semacam itu baru akan kami pakai nanti saat kelas dua untuk pelajaran menulis
 rangkai indah? Hal yang tak akan pernah kulupakan adalah bahwa pagi itu aku

 menyaksikan seorang anak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinya
 memegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiap apa pun
 yang ditulisnya merupakan buah pikiran yang gilang gemilang, karena nanti ia—seorang
 anak miskin pesisir—akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskin ini sebab
 ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur
 hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar