Rabu, 27 April 2016

Bab 5

"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata

BAB V
THE TOWER OF BABEL

 JUMLAH orang Tionghoa di kampung kami sekitar sepertiga dari total populasi.Ada
 orang Kek, ada orang Hokian, ada orang Tongsan, dan ada yang tak tahu asal usulnya.
 Bisa saja mereka yang lebih dulu mendiami pulau ini daripada siapa pun. Aichang, phok,
 kiaw, dan khaknai, seluruhnya adalah perangkat penambangan timah primitf yang
 sekarang dianggap temuan arkeologi, bukti bahwa nenek moyang mereka telah lama
 sekali berada di Pulau Belitong. Komunitas ini selalu tipikal: rendah hati ddan pekerja
 keras. Meskipun jauh terpisah dari akar budayanya namun mereka senantiasa memelihara
 adat istiadatnya, dan di Belitong mereka beruntung karena mereka tak perlu jauh-jauh
 datang ke Jinchanying kalau hanya ingin melihat Tembok Besar Cina.
 Persis bersebelahan dengan toko-toko kelontong milik warga Tionghoa ini berdiri
 tembok tinggi yang panjang dan disanasini tergantung papan peringatan “DILARANG
 MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Di atas tembok ini tidak hanya
 ditancapi pecahan-pecahan kaca yang mengancam tapi juga dililitkan empat jalur kawat
 berduri seperti di kampAuschwitz. Namun, tidak seperti Tembok Besar Cina yang
 melindungi berbagai dinasti dari sebuan suku-suku Mongol di utara, di Belitong tembok
 yang angkuh dan berkelak-kelok sepanjang kiloan meter ini adalah pengukuhan sebuah

 dominasi dan perbedaan status sosial.
 Di balik tembok itu terlindung sebuah kawasan yang disebut Gedong, yaitu negeri
 asing yang jika berada di dalamnya orang akan merasa tak sedang berada di Belitong.
 Dan di dalamsanaberdiri sekolah-sekolah PN. Sekolah PN adalah sebutan untuk sekolah
 milik PN (Perusahaan Negara) Timah, sebuah perusahaan yang paling berpengaruh di
 Belitong, bahkan sebuah hegemoni lebih tepatnya, karena timah adalah denyut nadi pulau
 kecil itu.
 Suatu sore seorang gentleman keluar dari balik tembok itu untuk berkeliling
 kampung dengan sebuah Chevrolet Corvette, lalu esoknya di depan sebuah majelis ia
 mencibir.
http://www.mardias.mywapblog.com
 “Tak satu pun kulihat ada anak muda memegang pacul! Tak pernah kulihat orangorang
 muda demikian malas seperti di sini.”
 Ha? Apa dia kira kami bangsa petani? Kami adalah buruh-buruh tambang yang
 bangga, padi tak tumbuh di atas tanah-tanah kami yang kaya material tambang!
 LAKSANA theTowerofBabel—yakni Menara Babel, metafora tangga menuju
 surga yang ditegakkan bangsa babylonia sebagai perlambang kemakmuran 5.600 tahun
 lalu, yang berdiri arogan di antara Sungai Tigris dan Eufrat di tanah yang sekarang
 disebut Irak—timah di Belitong adalah menara gading kemakmuran berkah Tuhan yang
 menjalar sepanjang Semenanjung Malaka, tak putus-putus seperti jalian urat di punggung
 tangan.
 Orang Melayu yang merogohkan tangannya ke dalam lapisan dangkal aluvium,
 hampir di sembarang tempat, akan mendapati lengannya berkilauan karena dilumuri
 ilmenit atau timah kosong. Bermil-mil dari pesisir, Belitong tampak sebagai garis pantai
 kuning berkilauan karena bijih-bijih timah dan kuarsa yang disirami cahaya matahari.
 Pantulan cahaya itu adalah citra yang lebih kemilau dari riak-riak gelombang laut dan
 membentuk semacam fatamorgana pelangi sebagai mercusuar yang menuntun para

 nakhoda.
 Tuhan memberkahi Belitong dengan timah bukan agar kapal yang berlayar ke
 pulau itu tidak menyimpang ke Laut Cina Selatan, tetapi timah dialirkan-Nya kesana
 untuk menjadi mercusuar bagi penduduk pulau itu sendiri. Adakah mereka telah semena mena pada
rezeki Tuhan sehingga nanti terlunta-lunta seperti di kala Tuhan menguji
 bangsa Lemuria?
 Kilau itu terus menyala sampai jauh malam. Eksploitasi timah besar-besaran
 secara nonstop diterangi ribuan lampu dengan energi jutaan kilo watt. Jika disaksikan
 dari udara di malam hari Pulau Belitong tampak seperti familia besar Ctenopore, yakni
 ubur-ubur yang memancarkan cahaya terang berwarna biru dalam kegelapan latu: sendiri,
 kecil, bersinar, indah, dan kaya raya. Belitong melayang-layang di antara Selat Gaspar
 dan Karimata bak mutiara dalma tangkupan kerang.
 Dan terberkatilah tanah yang dialiri timah karena ia seperti knautia yang dirubung
 beragam jenis lebah madu. Timah selalu mengikat material ikutan, yakni harta karun tak
 ternilai yang melimpah ruah: granit, zirkonium, silika, senotim, monazite, ilmenit, siderit,
 hematit, clay, emas, galena, tembaga, kaolin, kuarsa, dan topas …. Semuanya berlapislapis,
 meluap-luap, beribu-ribu ton di bawah rumah-rumah panggung kami. Kekayaan ini
 adalah … bahan dasar kaca berkualitas paling tinggi, bijih besi dan titanium yang bernas,
 … material terbaik untuk superkonduktor, timah kosong ilmenit yang digunakan
 laboratorium roket NASA sebagai materi antipanas ekstrem, zirkonium sebagai bahan
 dasar produk-produk tahan api, emas murni dan timah hitam yang amat mahal, bahkan
 kami memiliki sumber tenaga nuklir: uranium yang kaya raya. Semua ini sangat
 kontradiktif dengan kemiskinan turun temurun penduduk asli Melayu Belitong yang
 hidup berserakan di atasnya. Kami seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung
 padi.
 Belitong dalam batas kuasa eksklusif PN Timah adalahkotapraja Konstantinopel

 yang makmur. PN adalah penguasa tunggal Pulau Belitungyang termasyhur di seluruh
 negeri sebagai Pulau Timah. Nama itu tercetak di setiap buku geografi atau buku
 Himpunan Pengetahuan Umum pustaka wajib sekolah dasar. PN amat kaya. Ia punya
 jalan raya, jembatan, pelabuhan, real estate, bendungan, dok kapal, sarana
 telekomunikasi, air, listrik, rumah-rumah sakit, sarana olahraga—termasuk beberapa
 padanggolf, kelengkapan sarana hiburan, dan sekolah-sekolah. PN menjadikan
 Belitong—sebuah pulau kecil—seumpama desa perusahaan dengan aset triliunan rupiah.
 PN merupakan penghasil timah nasional terbesar yang mempekerjakan tak kurang
 dari 14.000 orang. Ia menyerap hampir seluruh angkatan kerja di Belitong dan
 menghasilkan devisa jutaan dolar. Lahan eksploiotasinya tak terbatas. Lahan itu disebut
 kuasa penambangan dan secara ketat dimonopoli. Legitimasi ini diperoleh melalui
 pembayaran royalti—lebih pas disebut upeti—miliaran rupiah kepada pemerintah. PN
 mengoperasikan 16 unit emmer bager atau kapal keruk yang bergerak lamban, mengorek
 isi bumi dengan 150 buah mangkuk-mangkuk baja raksasa, siang malam merambah laut,
 sungai, dan rawa-rawa, bersuara mengerikan laksana kawanan dinosaurus.
 Di titik tertinggi siklus komidi putar, di masa keemasan itu, penumpangnya
 mabuk ketinggian dan tertidur nyenyak, melanjutkan mimpi gelap yang ditiup-tiupkan
 kolonialis. Sejak zaman penjajahan, sebagai platform infrastruktur ekonomi, PN tidak
 hanya memonopoli faktor produksi terpenting tapi juga mewarisi mental bobrok
 feodalistis ala Belanda. Sementara seperti sering dialami oleh warga pribumi di mana pun
 yang sumber daya alamnya dieksploitasi habis-habisan, sebagaian komunitas di Belitong
 juga termarginalkan dalam ketidakadilan kompensasi tanah ulayah, persamaan
 kesempatan, dan trickle down effects.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar