Rabu, 27 April 2016

Bab 7

"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata

BAB VII
ZOOM OUT

 TAK disangsikan, jika di- zoom out, kampung kami adalah kampung terkaya diIndonesia.
 Inilah kampung tambang yang menghasilkan timah dengan harga segenggam lebih mahal
 puluhan kali lipat dibanding segantang padi. Triliunan rupiah aset tertanam disana,
 miliaran rupiah uang berputar sangat cepat seperti putaran mesin parut, dan miliaran
 dolar devisa mengalir deras seperti kawanan tikus terpanggil pemain seruling ajaib Der
 Rattenfanger von Hameln. Namun jika di- zoom in, kekayaan itu terperangkap di satu
 tempat, ia tertimbun di dalam batas tembok-tembok tinggi Gedong.
 Hanya beberapa jengkal di luar lingkaran tembok tersaji pemandangan kontras
 seperti langit dan bumi. Berlebihan jika disebut daerah kumuh tapi tak keliru jika
 diumpamakankotayang dilanda gerhana berkepanjangan sejak era pencerahan revolusi
 industri. Disana, di luar lingkar tembok Gedong hidup komunitas Melayu Belitong yang
 jika belum punya enam anak belum berhenti beranak pinak. Mereka menyalahkan
 pemerintah karena tidak menyediakan hiburan yang memadai sehingga jika malam tiba
 mereka tak punya kegiatan lain selain membuat anak-anak itu.
 Di luar tembok feodal tadi berdirilah rumah-rumah kami, beberapa sekolah
 negeri, dan satu sekolah kampung Muhammadiyah. Tak ada orang kaya disana, yang ada
 hanya kerumunan toko miskin di pasar tradisional dan rumah-rumah panggung yang
 renta dalam berbagai ukuran. Rumah-rumah asli Melayu ini sudah ditinggalkan zaman
 keemasannya. Pemiliknya tak ingin merubuhkannya karena tak ingin berpisah dengan
 kenangan masa jaya, atau karena tak punya uang.
Di antara rumah panggung itu berdesak-desakan kantor polisi, gudang-gudang
 logistik PN, kantor telepon, toapekong, kantor camat, gardu listrik, KUA, masjid, kantor
 pos, bangunan pemerintah—yang dibuat tanpa perencanaan yang masuk akal sehingga

 menjadi bangunan kosong telantar, tandon air, warung kopi, rumah gadai yang selalu
 dipenuhi pengunjung, dan rumah panjang suku Sawang.
 Komunitas Tionghoa tinggal di bangunan permanen yang juga digunakan sebagai
 toko. Mereka tidak memiliki pekarangan. Adapun pekarangan rumah orang Melayu
 ditumbuhi jarak pagar, beluntas, beledu, kembang sepatu, dan semak belukar yang
 membosankan. Pagar kayu saling-silang di parit bersemak di mana tergenang air mati
 berwarna cokelat—juga sangat membosankan. Entok dan ayam kampung berkeliaran
http://www.mardias.mywapblog.com
 seenaknya. Kambing yang tak dijaga melalap tanaman bunga kesayangan sehingga sering
 menimbulkan keributan kecil.
 Jalan raya di kampung ini panas menggelegak dan ingar-bingar oleh suara logam
 yang saling beradu ketika truk-truk reyot lalu-lalang membawa berbagai peralatan teknik
 eksplorasi timah. Kawasan kampung ini dapat disebut sebagai urban atau perkotaan.
 Umumnya tujuh macam profesi tumpang tindih di sini: kuli PN sebagai mayoritas,
 penjaga toko, pegawai negeri, pengangguran, pegawai kanotr desa, pedagang, dan
 pensiunan. Sepanjang waktu mereka hilir mudik dengan sepeda. Semuanya, para
 penduduk, kambing, entok, ayam, dan seluruh bangunan itu tampak berdebu, tak teratur,
 tak berseni, dan kusam.
 Keseharian orang pinggiran ini amat monoton. Pagi yang sunyi senyap mendadak
 sontak berantakan ketika kantor pusat PN Timah membunyikan sirine, pukul 7 kurang 10.
 Sirine itu memekakkan telinga dalam radius puluhan kilometer seperti peringatan
 serangan Jepang dalam pengeboman Pearl Harbour.
 Demi mendengar sirine itu, dari rumah-rumah panggung, jalan-jalan kecil, sudutsudut
 kampung, rumah-rumah dinas permanen berdinding papan, dan gang-gang sempit
 bermunculanlah para kuli PN bertopi kuning membanjiri jalan raya. Mereka berdesakan,
 terburu-buru mengayuh sepeda dalam rombongan besar atau berjalan kaki, karena
 sepuluh menit lagi jam kerja dimulai. Jumlah mereka ribuan.

 Mereka menyerbu tempat kerja masing-masing: bengkel bubut, kilang minyak,
 gudang beras, dok kapal, dan unit-unit pencucian timah. Para kuli yang bekerja shiftdi
 kapal keruk melompat berjejal-jejal ke dalam bak truk terbuka seperti sapi yang akan
 digiring ke penjagalan. Tepat pukul 7 kembali dibunyikan sirene kedua tanda jam resmi
 masuk kerja. Lalu tiba-tiba jalan-jalan raya, kampung-kampung, dan pasar kembali
 lengang, sunyi senyap. Setelah pukul 7 pagi, rumah orang Melayu Belitong hanya dihuni
 kaum wanita, para pensiunan, dan anak-anak kecil yang belum sekolah. Kampung
 kembali hidup pada pukul 10, yaitu ketika wanita-wanita itu memainkan orkestra
 menumbuk bumbu. Suara alu yang dilantakkan ke dalam lumpang kayu bertalu-talu,
 sahut-menyahut dari rumah ke rumah.
 Pukul 12 sirine kembali berbunyi, kali ini adalah sebagai tanda istirahat. Dalam
 sekejap jalan raya dipenuhi para kuli yang pulang sebentar. Lapar membuat mereka
 tampak seperti semut-semut hitam yang sarangnya terbakar, lebih tergesa dibanding
 waktu mereka berangkat pagi tadi. Pukul 2 siang sirine berdengung lagi memanggil
 mereka bekerja.Parakuli ini akan kembali pulang ke peraduan setelah terdengar sirine
 yang sangat panjang tepat pukul 5 sore. Demikianlah yang berlangsung selama puluhan
 tahun lamanya.
 TIDAK seperti di Gedong, jika makan orang urban ini tidak mengenal appetizer
 sebagai perangsang selera, tak mengenal main course, ataupun dessert. Bagi mereka
 semuanya adalah menu utama. Pada musim barat ketika nelayan enggan melaut, menu
 utama itu adalah ikan gabus.Parakuli yang bernafsu makan besar sesuai dengan
 pembakaran kalorinya itu jika makan seluruh tubuhnya seakan tumpah ke atas meja. Agar
 lebih praktis tak jarang baskom kecil nasi langsung digunakan sebagai piring. Di situlah
 diguyur semangkuk gangan, yaitu masakna tradisional dengan bumbu kunir. Ketika
 makan emreka tak diiringi karya Mozart Haffner No. 35 in D Majortapi diiringi
 rengekan anak-anaknya yang minta dibelikan baju pramuka.

 Setiap subuh para istri meniup siong(potongan bambu) untuk menghidupkan
 tumpukan kayu bakar. Asap mengepul masuk ke dalam rumah, menyembul keluar
 melalui celah dinding papan, dan membangunkan entok yang dipelihara di bawah rumah
 panggung. Asap itu membuat penghuni rumah terbatuk-batuk, namun ia amat diperlukan
 guna menyalakan gemuk sapi yang dibeli bulan sebelumnya dan digantungkan berjuntaijuntai
 seperti cucian di atas perapian. Gemuk sapi itulah sarapan mereka setiap pagi.
 Sebelum berangkat para kuli itu tidak minum teh Earlgreyatau cappuccino, melainkan
 minum air gula aren dicampur jadamuntuk menimbulkan efek tenaga kerbau yang akan
 digunakan sepanjang hari.
 Apabila persediaan gemuk sapi menipis dan angin barat semakin kencang, maka
 menu yang disajikan sangatlah istimewa, yaitu lauk yang diasap untuk sarapan, lauk yang
 diasin untuk makan siang, dan lauk yang dipepes untuk makan malam, seluruhnya terbuat
 dari ikan gabus.
 DI luar lingkungan urban, berpencar menuju dua arah besar adalah wilayah rural
 atau pedesaan. Daerha ini memanjang dalam jarak puluhan kilometer menuju ke barat ibu
kotaKabupaten: Tanjong Pandan. Sebaliknya, ke arah selatan akan menelusuri jalur ke
 pedalaman. Jalur ini berangsur-angsur berubah dari aspal menjadi jalan batu merah dan
 lama-kelamaan menjadi jalan tanah setapak yang berakhir di laut.
 Di sepanjang jalur pedesaan rumah penduduk berserakan, berhadap-hadapan
 dipisahkan oleh jalan raya. Dulu nenek moyang mereka berladang di hutan. Belanda
 menggiring mereka ke pinggir jalan raya, agar mudah dikendalikan tentu saja. Orangorang
 pedesaan ini hidup bersahaja, umumnya berkebun, mengambil hasil hutan, dan
 mendapat bonus musiman dari siklus buah-buahan, lebah madu, dan ikan air tawar.
 Mereka mendiami tanah ulayat dan di belakang rumah mereka terhampar ribuan hektar
 tanah tak bertuan, padang sabana, rawa-rawa layaknya laboratorium alam yang lengkap,
 dan aliran air bening yang belum tercemar.

 Kekuatan ekonomi Belitong dipimpin oleh orang staf PN dan para cukong swasta
 yang mengerjakan setiap konsesi eksploitasi timah. Mereka menempati strata tertinggi
 dalam lapisan yang sangat tipis. Kelas menengah tak ada, oh atau mungkin juga ada,
 yaitu para camat, para kepala dinas dan pejabat-pejabat publik yang korupsi kecilkecilan,
 dan aparat penegak hukum yang mendapat uang dari menggertaki cukongcukong
 itu.
 Sisanya berada di lapisan terendah, jumlahnya banyak dan perbedaannya amat
 mencolok dibanding kelas di atasnya. Mereka adalah para pegawai kantor desa, karyawan
 rendahan PN, pencari madu dan nira, para pemain organ tunggal, semua orang Sawang,
 semua orang Tionghoa kebun, semua orang Melayu yang hidup di pesisir, para tenaga
 honorer Pemda, dan semua guru dan kepala sekolah—baik sekolah negeri maupun
 sekolah kampung—kecuali guru dan kepala sekolah PN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar