"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata
BAB VII
ZOOM OUT
TAK disangsikan, jika di- zoom out, kampung kami adalah kampung terkaya diIndonesia.
Inilah kampung tambang yang menghasilkan timah dengan harga segenggam lebih mahal
puluhan kali lipat dibanding segantang padi. Triliunan rupiah aset tertanam disana,
miliaran rupiah uang berputar sangat cepat seperti putaran mesin parut, dan miliaran
dolar devisa mengalir deras seperti kawanan tikus terpanggil pemain seruling ajaib Der
Rattenfanger von Hameln. Namun jika di- zoom in, kekayaan itu terperangkap di satu
tempat, ia tertimbun di dalam batas tembok-tembok tinggi Gedong.
Hanya beberapa jengkal di luar lingkaran tembok tersaji pemandangan kontras
seperti langit dan bumi. Berlebihan jika disebut daerah kumuh tapi tak keliru jika
diumpamakankotayang dilanda gerhana berkepanjangan sejak era pencerahan revolusi
industri. Disana, di luar lingkar tembok Gedong hidup komunitas Melayu Belitong yang
jika belum punya enam anak belum berhenti beranak pinak. Mereka menyalahkan
pemerintah karena tidak menyediakan hiburan yang memadai sehingga jika malam tiba
mereka tak punya kegiatan lain selain membuat anak-anak itu.
Di luar tembok feodal tadi berdirilah rumah-rumah kami, beberapa sekolah
negeri, dan satu sekolah kampung Muhammadiyah. Tak ada orang kaya disana, yang ada
hanya kerumunan toko miskin di pasar tradisional dan rumah-rumah panggung yang
renta dalam berbagai ukuran. Rumah-rumah asli Melayu ini sudah ditinggalkan zaman
keemasannya. Pemiliknya tak ingin merubuhkannya karena tak ingin berpisah dengan
kenangan masa jaya, atau karena tak punya uang.
Di antara rumah panggung itu berdesak-desakan kantor polisi, gudang-gudang
logistik PN, kantor telepon, toapekong, kantor camat, gardu listrik, KUA, masjid, kantor
pos, bangunan pemerintah—yang dibuat tanpa perencanaan yang masuk akal sehingga
menjadi bangunan kosong telantar, tandon air, warung kopi, rumah gadai yang selalu
dipenuhi pengunjung, dan rumah panjang suku Sawang.
Komunitas Tionghoa tinggal di bangunan permanen yang juga digunakan sebagai
toko. Mereka tidak memiliki pekarangan. Adapun pekarangan rumah orang Melayu
ditumbuhi jarak pagar, beluntas, beledu, kembang sepatu, dan semak belukar yang
membosankan. Pagar kayu saling-silang di parit bersemak di mana tergenang air mati
berwarna cokelat—juga sangat membosankan. Entok dan ayam kampung berkeliaran
http://www.mardias.mywapblog.com
seenaknya. Kambing yang tak dijaga melalap tanaman bunga kesayangan sehingga sering
menimbulkan keributan kecil.
Jalan raya di kampung ini panas menggelegak dan ingar-bingar oleh suara logam
yang saling beradu ketika truk-truk reyot lalu-lalang membawa berbagai peralatan teknik
eksplorasi timah. Kawasan kampung ini dapat disebut sebagai urban atau perkotaan.
Umumnya tujuh macam profesi tumpang tindih di sini: kuli PN sebagai mayoritas,
penjaga toko, pegawai negeri, pengangguran, pegawai kanotr desa, pedagang, dan
pensiunan. Sepanjang waktu mereka hilir mudik dengan sepeda. Semuanya, para
penduduk, kambing, entok, ayam, dan seluruh bangunan itu tampak berdebu, tak teratur,
tak berseni, dan kusam.
Keseharian orang pinggiran ini amat monoton. Pagi yang sunyi senyap mendadak
sontak berantakan ketika kantor pusat PN Timah membunyikan sirine, pukul 7 kurang 10.
Sirine itu memekakkan telinga dalam radius puluhan kilometer seperti peringatan
serangan Jepang dalam pengeboman Pearl Harbour.
Demi mendengar sirine itu, dari rumah-rumah panggung, jalan-jalan kecil, sudutsudut
kampung, rumah-rumah dinas permanen berdinding papan, dan gang-gang sempit
bermunculanlah para kuli PN bertopi kuning membanjiri jalan raya. Mereka berdesakan,
terburu-buru mengayuh sepeda dalam rombongan besar atau berjalan kaki, karena
sepuluh menit lagi jam kerja dimulai. Jumlah mereka ribuan.
Mereka menyerbu tempat kerja masing-masing: bengkel bubut, kilang minyak,
gudang beras, dok kapal, dan unit-unit pencucian timah. Para kuli yang bekerja shiftdi
kapal keruk melompat berjejal-jejal ke dalam bak truk terbuka seperti sapi yang akan
digiring ke penjagalan. Tepat pukul 7 kembali dibunyikan sirene kedua tanda jam resmi
masuk kerja. Lalu tiba-tiba jalan-jalan raya, kampung-kampung, dan pasar kembali
lengang, sunyi senyap. Setelah pukul 7 pagi, rumah orang Melayu Belitong hanya dihuni
kaum wanita, para pensiunan, dan anak-anak kecil yang belum sekolah. Kampung
kembali hidup pada pukul 10, yaitu ketika wanita-wanita itu memainkan orkestra
menumbuk bumbu. Suara alu yang dilantakkan ke dalam lumpang kayu bertalu-talu,
sahut-menyahut dari rumah ke rumah.
Pukul 12 sirine kembali berbunyi, kali ini adalah sebagai tanda istirahat. Dalam
sekejap jalan raya dipenuhi para kuli yang pulang sebentar. Lapar membuat mereka
tampak seperti semut-semut hitam yang sarangnya terbakar, lebih tergesa dibanding
waktu mereka berangkat pagi tadi. Pukul 2 siang sirine berdengung lagi memanggil
mereka bekerja.Parakuli ini akan kembali pulang ke peraduan setelah terdengar sirine
yang sangat panjang tepat pukul 5 sore. Demikianlah yang berlangsung selama puluhan
tahun lamanya.
TIDAK seperti di Gedong, jika makan orang urban ini tidak mengenal appetizer
sebagai perangsang selera, tak mengenal main course, ataupun dessert. Bagi mereka
semuanya adalah menu utama. Pada musim barat ketika nelayan enggan melaut, menu
utama itu adalah ikan gabus.Parakuli yang bernafsu makan besar sesuai dengan
pembakaran kalorinya itu jika makan seluruh tubuhnya seakan tumpah ke atas meja. Agar
lebih praktis tak jarang baskom kecil nasi langsung digunakan sebagai piring. Di situlah
diguyur semangkuk gangan, yaitu masakna tradisional dengan bumbu kunir. Ketika
makan emreka tak diiringi karya Mozart Haffner No. 35 in D Majortapi diiringi
rengekan anak-anaknya yang minta dibelikan baju pramuka.
Setiap subuh para istri meniup siong(potongan bambu) untuk menghidupkan
tumpukan kayu bakar. Asap mengepul masuk ke dalam rumah, menyembul keluar
melalui celah dinding papan, dan membangunkan entok yang dipelihara di bawah rumah
panggung. Asap itu membuat penghuni rumah terbatuk-batuk, namun ia amat diperlukan
guna menyalakan gemuk sapi yang dibeli bulan sebelumnya dan digantungkan berjuntaijuntai
seperti cucian di atas perapian. Gemuk sapi itulah sarapan mereka setiap pagi.
Sebelum berangkat para kuli itu tidak minum teh Earlgreyatau cappuccino, melainkan
minum air gula aren dicampur jadamuntuk menimbulkan efek tenaga kerbau yang akan
digunakan sepanjang hari.
Apabila persediaan gemuk sapi menipis dan angin barat semakin kencang, maka
menu yang disajikan sangatlah istimewa, yaitu lauk yang diasap untuk sarapan, lauk yang
diasin untuk makan siang, dan lauk yang dipepes untuk makan malam, seluruhnya terbuat
dari ikan gabus.
DI luar lingkungan urban, berpencar menuju dua arah besar adalah wilayah rural
atau pedesaan. Daerha ini memanjang dalam jarak puluhan kilometer menuju ke barat ibu
kotaKabupaten: Tanjong Pandan. Sebaliknya, ke arah selatan akan menelusuri jalur ke
pedalaman. Jalur ini berangsur-angsur berubah dari aspal menjadi jalan batu merah dan
lama-kelamaan menjadi jalan tanah setapak yang berakhir di laut.
Di sepanjang jalur pedesaan rumah penduduk berserakan, berhadap-hadapan
dipisahkan oleh jalan raya. Dulu nenek moyang mereka berladang di hutan. Belanda
menggiring mereka ke pinggir jalan raya, agar mudah dikendalikan tentu saja. Orangorang
pedesaan ini hidup bersahaja, umumnya berkebun, mengambil hasil hutan, dan
mendapat bonus musiman dari siklus buah-buahan, lebah madu, dan ikan air tawar.
Mereka mendiami tanah ulayat dan di belakang rumah mereka terhampar ribuan hektar
tanah tak bertuan, padang sabana, rawa-rawa layaknya laboratorium alam yang lengkap,
dan aliran air bening yang belum tercemar.
Kekuatan ekonomi Belitong dipimpin oleh orang staf PN dan para cukong swasta
yang mengerjakan setiap konsesi eksploitasi timah. Mereka menempati strata tertinggi
dalam lapisan yang sangat tipis. Kelas menengah tak ada, oh atau mungkin juga ada,
yaitu para camat, para kepala dinas dan pejabat-pejabat publik yang korupsi kecilkecilan,
dan aparat penegak hukum yang mendapat uang dari menggertaki cukongcukong
itu.
Sisanya berada di lapisan terendah, jumlahnya banyak dan perbedaannya amat
mencolok dibanding kelas di atasnya. Mereka adalah para pegawai kantor desa, karyawan
rendahan PN, pencari madu dan nira, para pemain organ tunggal, semua orang Sawang,
semua orang Tionghoa kebun, semua orang Melayu yang hidup di pesisir, para tenaga
honorer Pemda, dan semua guru dan kepala sekolah—baik sekolah negeri maupun
sekolah kampung—kecuali guru dan kepala sekolah PN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar