Rabu, 27 April 2016

Bab 3

"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata

BAB III
I N I S I A S I

 TAK susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan
 atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit
 saja oleh kambing yang senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan.
 Kami memiliki enam kelas kecil-kecil, pagi untuk SD Muhammadiyah dan sore
 untuk SMP Muhammadiyah. Maka kami, sepuluh siswa baru ini bercokol selama
 sembilan tahun di sekolah yang sama dan kelas-kelas yang sama, bahkan susunan kawan
 sebangku pun tak berubah selama sembilan tahun SD dan SMP itu.
 Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SD Muhammadiyah ke sekolah
 memakai sandal. Kami bahkan tak punya seragam. Kami juga tak punya kotak P3K. Jika
 kami sakit, sakit apa pun: diare, bengkak, batuk, flu, atau gatal-gatal maka guru kami
 akan memberikan sebuah pil berwarna putih, berukuran besar bulat seperti kancing jas
 hujan, yang rasanya sangat pahit. Jika diminum kita bisa merasa kenyang. Pada pil itu
 ada tulisan besar APC. Itulah pil APC yang legendaris di kalangan rakyat pinggiran
 Belitong. Obat ajaib yang bisa menyembuhkan segala rupa penyakit.
 Sekolah Muhammadiyah tak pernah dikunjungi pejabat, penjual kaligrafi,
 pengawas sekolah, apalagi anggota dewan. Yang rutin berkunjung hanyalah seorang pria

 yang berpakaian seperti ninja. Di punggungnya tergantung sebuah tabung aluminium
 besar dengan slang yang menjalar kesanakemari. Ia seperti akan berangkat ke bulan.
 Pria ini adalah utusan dari dinas kesehatan yang menyemprot sarang nyamuk dengan
 DDT. Ketika asap putih tebal mengepul seperti kebakaran hebat, kami pun bersoraksorak
 kegirangan.
 Sekolah kami tidak dijaga karena tidak ada benda berharga yang layak dicuri.
http://www.mardias.mywapblog.com
 Satu-satunya benda yang menandakan bangunan itu sekolah adalah sebatang tiang
 bendera dari bambu kuning dan sebuah papan tulis hijau yang tergantung miring di dekat
 lonceng. Lonceng kami adalah besi bulat berlubang-lubang bekas tungku. Di papan tulis
 itu terpampang gambar matahari dengan garis-garis sinar berwarna putih. Di tengahnya
 tertulis:
 SD MD
 Sekolah Dasar Muhammadiyah
 Lalu persis di bawah mathari tadi tertera huruf-huruf arab gundul yang nanti
 setelah kelas dua, setelah aku pandai membaca huruf arab, aku tahu bahwa tulisan itu
 berbunyi amar makruf nahi mungkar artinya :menyuruh kepada yang makruf dan
 mencegah dari yang mungkar”. Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata
 itu melekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti. Kata-kata yang begitu kami kenal
 seperti kami mengenal bau alami ibu-ibu kami.
 Jika dilihat dari jauh sekolah kami seolah akan tumpah karena tiang-tiang kayu
 yang tua sudah tak tegak menahan atap sirap yang berat. Maka sekolah kami sangat mirip
 gudang kopra. Konstruksi bangunan yang menyalahi prinsip arsitektur ini menyebabkan
 tak ada daun pintu dan jendela yang bisa dikunci karena sudah tidak simetris dengan
 rangka kusennya. Tapi buat apa pula dikunci?
 Di dalam kelas kami tidak terdapat tempelan poster operasi kali-kalian seperti
 umumnya terdapat di kelas-kelas sekolah dasar. Kami juga tidak memiliki kalender dan

 tak ada gambar presiden dan wakilnya, atau gambar seekor burung aneh berekor delapan
 helai yang selalu menoleh ke kanan itu. Satu-satunya tempelan disanaadalah sebuah
 poster, persis di belakang meja Bu Mus untuk menutupi lubang besar di dinding papan.
 Poster itu memperlihatkan gambar seorang pria berjenggot lebat, memakai jubah, dan ia
 memegang sebuah gitar penuhgaya. Matanya sayu tapi meradang, seperti telah
 mengalami cobaan hidup yang mahadahsyat. Dan agaknya ia memang telah bertekad
 bulat melawan segala bentuk kemaksiatan di muka bumi. Di dalam gambar tersebut sang
 pria tadi melongok ke langit dan banyak sekali uang-uang kertas serta logam berjatuhan
 menimpa wajahnya. Di bagian bawah poster itu terdapat dua baris kalimat yang tak
 kupahami. Tapi nanti setelah naik ke kelas dua dan sudah pintar membaca, aku mengerti
 bunyi kedua kalimat itu adalah: RHOMA IRAMA, HUJAN DUIT!
 Maka pada intinya tak ada yang baru dalam pembicaraan tentang sekolah yang
 atapnya bocor, berdinding papan, berlantai tanah, atau yang kalau malam dipakai untuk
 menyimpan ternak, semua itu telah dialami oleh sekolah kami. Lebih menarik
 membicarakan tentang orang-orang seperti apa yang rela menghabiskan hidupnya
 bertahan di sekolah semacam ini. Orang-orang itu tentu saja kepala sekolah kami Pak
 K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor dan Ibu N.A. Muslimah Hafsari
 Hamid binti K.A. Abdul Hamid.
 Pak Harfan, seperti halnya sekolah ini, tak susah digambarkan. Kumisnya tebal,
 cabangnya tersambung pada jenggot lebat berwarna kecokelatan yang kusam dan
 beruban. Hemat kata, wajahnya mirip Tom Hanks, tapi hanya Tom Hanks di dalam film
 di mana ia terdampar di sebuah pulau sepi, tujuh belas bulan tidak pernah bertemu
 manusia dan mulai berbicara dengan sebuah bola voli. Jika kita bertanya tentang
 jenggotnya yang awut-awtuan, beliau tidak akan repot-repot berdalih tapi segera
 menyodorkan sebuah buku karya Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandhallawi Rah,
 R.A. yang berjudul Keutamaan Memelihara Jenggot. Cukup membaca pengantarnya saja

 Anda akan merasa malu sudah bertanya.
 K.A. pada nama depan Pak Harfan berarti Ki Agus. Gelar K.A. mengalir dalam
 garis laki-laki silsilah Kerajaan Belitong. Selama puluhan tahun keluarga besar yang amat
 bersahaja ini berdiri pada garda depan pendidikan disana. Pak Harfan telah puluhan
 tahun mengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apa pun demi motif
 syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di pekarangan
 rumahnya.
 Hari ini Pak Harfan mengenakan baju takwa yang dulu pasti berwarna hijau tapi
 kini warnanya pudar menjadi putih. Bekas-bekas warna hijau masih kelihatan di baju itu.
 Kaus dalamnya berlubang di beberapa bagian dan beliau mengenakan celana panjang
 yang lusuh karena terlalu sering dicuci. Seutas ikat pinggang plastik murahan bermotif
 ketupat melilit tubuhnya. Lubang ikat pinggang itu banyak berderet-deret, mungkin telah
 dipakai sejak beliau berusia belasan.
 Karena penampilan Pak Harfan agak seperti beruang madu maka ketika pertama
 kali melihatnya kami merasa takut. Anak kecil yang tak kuat mental bisa-bisa langsung
 terkena sawan. Namun, ketika beliau angkat bicara, tak dinyana, meluncurlah mutiara-
 mutiara nan puitis sebagai prolog penerimaan selamat datang penuh atmosfer sukacita di
 sekolahnya yang sederhana. Kemudian dalam waktu yang amat singkat beliau telah
 merebut hati kami. Bapak yang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentang
 perahu Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari banjir bandang.
 “Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan datang …,” demikian
 ceritanya dengan wajah penuh penghayatan.
 “Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikan telinga mereka, hingga
 mereka musnah dilamun ombak ….”
 Sebuah kisah yang sangat mengesankan. Pelajaran moral pertama bagiku: jika tak
 rajin sahalat maka pandai-pandailah berenang.

 Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah cerita peperangan besar zaman
 Rasulullah di mana kekuatan dibentuk oleh iman bukan oleh jumlah tentara: perang
 Badar! Tiga ratus tiga belas tentara Islam mengalahkan ribuan tentara Quraisy yang kalap
 dan bersenjata lengkap.
 “Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat-tempat
 kematian kalian dalam masa tiga hari!” Demikian Pak Harfan berteriak lantang sambil
 menatap langit melalui jendela kelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang
 penduduk Mekkah, firasat kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar.
 Mendengar teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami
 ternganga karena suara Pak Harfan yang berat menggetarkan benang-benang halus dalam
 kalbu kami. Kami menanti liku demi liku cerita dalam detik-detik menegangkan dengan
 dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan para penegak Islam. Lalu Pak Harfan
 mendinginkan suasana yang berkisah tentang penderitaan dan tekanan yang dialami
 seorang pria bernama Zubair bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah
 payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, mendirikan sekolah
 dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian
 muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban
 habis-habisan melanjutkan sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah.
 Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra
 Selatan.
 Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang badar sekaligus
 setenang embusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap pilihan kata dan gerak lakunya
 yang memikat.Adasemacam pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia
 mengesankan sebagai pria yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahan
 hidup, berpengetahuan seluas samudra, bijak, berani mengambil risiko, dan menikmati
 daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar setiap orang

 mengerti.
 Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal “guru” yang
 sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya,India, yaitu orang yang tak hanya
 mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan
 pembimbing spiritual bagi muridnya. Beliau sering menaikturunkan intonasi, menekan
 kedua ujung meja sambil mempertegas kata-kata tertentu, dan mengangkat kedua
 tangannya laksana orang berdoa minta hujan.
 Ketika mengajukan pertanyaan beliau berlari-lari kecil mendekati kami, menatap
 kami penuh arti dengan pandangan matanya yang teduh seolah kami adalah anak-anak
 Melayu yang paling berharga. Lalu membisikkan sesuatu di telinga kami, menyitir
 dengan lancar ayat-ayat suci, menantang pengetahuan kami, berpantun, membelai hati
 kami dengan wawasan ilmu, lalu diam, diam berpikir seperti kekasih merindu, indah
 sekali.
 Beliau menorehkan benang merah kebenaran hidup yang sederhana melalui katakatanya
 yang ringan namun bertenaga seumpama titik-titik air hujan. Beliau
 mengobarkan semangat kami utnuk belajar dan membuat kami tercengang dengan
 petuahnya tentang keberanian pantang menyerah melawan kesulitan apa pun. Pak Harfan
 memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan,
 tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup
 bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban
 untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap
 jauh ke dalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah
 untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
 Kami tak berkedip menatap sang juru kisah yang ulung ini. Pria ini buruk rupa
 dan buruk pula setiap apa yang disandangnya, tapi pemikirannya jernih dan kata-katanya
 bercahaya. Jika ia mengucapkan sesuatu kami pun terpaku menyimaknya dan tak sabar

 menunggu untaian kata berikutnya. Tiba-tiba aku merasa sangat beruntung didaftarkan
 orangtuaku di sekolah miskin Muhammadiyah. Aku merasa telah terselamatkan karena
 orangtuaku memilih sebuah sekolah Islam sebagai pendidikan paling dasar bagiku. Aku
 merasa amat beruntung berada di sini, di tengah orang-orang yang luar biasa ini. Ada
 keindahan di sekolah Islam melarat ini. Keindahan yang tak ‘kan kutukar dengan seribu
 kemewahan sekolah lain.
 Setiap kali Pak Harfan ingin menguji apa yang telah diceritakannya kami
 berebutan mengangkat tangan, bahkan kami mengacung meskipun beliau tak bertanya,
 dan kami mengacung walaupun kami tak pasti akan jawaban. Sayangnya bapak yang
 penuh daya tarik ini harus mohon diri. Satu jam dengannya terasa hanya satu menit. Kami
 mengikuti setiap inci langkahnya ketika meninggalkan kelas. Pandangan kami melekat
 tak lepas-lepas darinya karena kami telah jatuh cinta padanya. Beliau telah membuat
 kami menyayangi sekolah tua ini. Kuliah umum dari Pak Harfan di hari pertama kami
 masuk SD Muhammadiyah langsung menancapkan tekad dalam hati kami untuk
 membela sekolah yang hampir rubuh ini, apa pun yang terjadi.
 Kelas diambil alih oleh Bu Mus. Acaranya adalah perkenalan dan akhirnya tibalah
 giliran A Kiong. Tangisnya sudah reda tapi ia masih terisak. Ketika diminta ke depan
 kelas ia senang bukan main. Sekarang di sela-sela isaknya ia tersenyum. Ia menggoyanggoyangkan
 tubuhnya. Tangan kirinya memegang botol air yang kosong—karena isinya
 tadi ditumpahkanSahara—dan tangan kanannya menggenggam kuat tutup botol itu.
 “Silahkan ananda perkenalkan nama dan alamat rumah …,” pinta Bu Mus lembut
 pada anak Hokian itu.
 A Kiong menatap Bu Mus dengan ragu kemudian ia kembali tersenyum.
 Bapaknya menyeruak di antara kerumunan orangtua lainnya, ingin menyaksikan anaknya
 beraksi. Namun, meskipun berulang kali ditanya A Kiong tidak menjawab sepatah kata
 pun. Ia terus tersenyum dan hanya tersenyum saja.

 “Silakan ananda …,” Bu Mus meminta sekali lagi dengan sabar.
 Namun sayang A Kiong hanya menjawabnya dengan kembali tersenyum. Ia
 berkali-kali melirik bapaknya yang kelihatan tak sabar. Aku dapat membaca pikiran
 ayahnya, “Ayolah anakku, kuatkan hatimu, sebutkan namamu! Paling tidak sebutkan
 nama bapakmu ini, sekali saja! Jangan bikin malu orang Hokian!” Bapak Tionghoa
 berwajah ramah ini dikenal sebagai seorang Tionghoa kebun, strata ekonomi terendah
 dalam kelas sosial orang-orang Tionghoa di Belitong.
 Namun, sampai waktu akan berakhir A Kiong masih tetap saja tersenyum. Bu
 Mus membujuknya lagi.
 “Baiklah ini kesempatan terakhir untukmu mengenalkan diri, jika belum bersedia
 maka harus kembali ke tempat duduk.”
 A Kiong malah semakin senang. Ia masih sama sekali tak menjawab. Ia
 tersenyum lebar, matanya yang sipit menghilang. Pelajaran moral nomor dua: jangan
 tanyakan nama dan alamat pada orang yang tinggal di kebun. Maka berakhirlah
 perkenalan di bulan Februari yang mengesankan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar