"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata
BAB III
I N I S I A S I
TAK susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan
atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit
saja oleh kambing yang senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan.
Kami memiliki enam kelas kecil-kecil, pagi untuk SD Muhammadiyah dan sore
untuk SMP Muhammadiyah. Maka kami, sepuluh siswa baru ini bercokol selama
sembilan tahun di sekolah yang sama dan kelas-kelas yang sama, bahkan susunan kawan
sebangku pun tak berubah selama sembilan tahun SD dan SMP itu.
Kami kekurangan guru dan sebagian besar siswa SD Muhammadiyah ke sekolah
memakai sandal. Kami bahkan tak punya seragam. Kami juga tak punya kotak P3K. Jika
kami sakit, sakit apa pun: diare, bengkak, batuk, flu, atau gatal-gatal maka guru kami
akan memberikan sebuah pil berwarna putih, berukuran besar bulat seperti kancing jas
hujan, yang rasanya sangat pahit. Jika diminum kita bisa merasa kenyang. Pada pil itu
ada tulisan besar APC. Itulah pil APC yang legendaris di kalangan rakyat pinggiran
Belitong. Obat ajaib yang bisa menyembuhkan segala rupa penyakit.
Sekolah Muhammadiyah tak pernah dikunjungi pejabat, penjual kaligrafi,
pengawas sekolah, apalagi anggota dewan. Yang rutin berkunjung hanyalah seorang pria
yang berpakaian seperti ninja. Di punggungnya tergantung sebuah tabung aluminium
besar dengan slang yang menjalar kesanakemari. Ia seperti akan berangkat ke bulan.
Pria ini adalah utusan dari dinas kesehatan yang menyemprot sarang nyamuk dengan
DDT. Ketika asap putih tebal mengepul seperti kebakaran hebat, kami pun bersoraksorak
kegirangan.
Sekolah kami tidak dijaga karena tidak ada benda berharga yang layak dicuri.
http://www.mardias.mywapblog.com
Satu-satunya benda yang menandakan bangunan itu sekolah adalah sebatang tiang
bendera dari bambu kuning dan sebuah papan tulis hijau yang tergantung miring di dekat
lonceng. Lonceng kami adalah besi bulat berlubang-lubang bekas tungku. Di papan tulis
itu terpampang gambar matahari dengan garis-garis sinar berwarna putih. Di tengahnya
tertulis:
SD MD
Sekolah Dasar Muhammadiyah
Lalu persis di bawah mathari tadi tertera huruf-huruf arab gundul yang nanti
setelah kelas dua, setelah aku pandai membaca huruf arab, aku tahu bahwa tulisan itu
berbunyi amar makruf nahi mungkar artinya :menyuruh kepada yang makruf dan
mencegah dari yang mungkar”. Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata
itu melekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti. Kata-kata yang begitu kami kenal
seperti kami mengenal bau alami ibu-ibu kami.
Jika dilihat dari jauh sekolah kami seolah akan tumpah karena tiang-tiang kayu
yang tua sudah tak tegak menahan atap sirap yang berat. Maka sekolah kami sangat mirip
gudang kopra. Konstruksi bangunan yang menyalahi prinsip arsitektur ini menyebabkan
tak ada daun pintu dan jendela yang bisa dikunci karena sudah tidak simetris dengan
rangka kusennya. Tapi buat apa pula dikunci?
Di dalam kelas kami tidak terdapat tempelan poster operasi kali-kalian seperti
umumnya terdapat di kelas-kelas sekolah dasar. Kami juga tidak memiliki kalender dan
tak ada gambar presiden dan wakilnya, atau gambar seekor burung aneh berekor delapan
helai yang selalu menoleh ke kanan itu. Satu-satunya tempelan disanaadalah sebuah
poster, persis di belakang meja Bu Mus untuk menutupi lubang besar di dinding papan.
Poster itu memperlihatkan gambar seorang pria berjenggot lebat, memakai jubah, dan ia
memegang sebuah gitar penuhgaya. Matanya sayu tapi meradang, seperti telah
mengalami cobaan hidup yang mahadahsyat. Dan agaknya ia memang telah bertekad
bulat melawan segala bentuk kemaksiatan di muka bumi. Di dalam gambar tersebut sang
pria tadi melongok ke langit dan banyak sekali uang-uang kertas serta logam berjatuhan
menimpa wajahnya. Di bagian bawah poster itu terdapat dua baris kalimat yang tak
kupahami. Tapi nanti setelah naik ke kelas dua dan sudah pintar membaca, aku mengerti
bunyi kedua kalimat itu adalah: RHOMA IRAMA, HUJAN DUIT!
Maka pada intinya tak ada yang baru dalam pembicaraan tentang sekolah yang
atapnya bocor, berdinding papan, berlantai tanah, atau yang kalau malam dipakai untuk
menyimpan ternak, semua itu telah dialami oleh sekolah kami. Lebih menarik
membicarakan tentang orang-orang seperti apa yang rela menghabiskan hidupnya
bertahan di sekolah semacam ini. Orang-orang itu tentu saja kepala sekolah kami Pak
K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor dan Ibu N.A. Muslimah Hafsari
Hamid binti K.A. Abdul Hamid.
Pak Harfan, seperti halnya sekolah ini, tak susah digambarkan. Kumisnya tebal,
cabangnya tersambung pada jenggot lebat berwarna kecokelatan yang kusam dan
beruban. Hemat kata, wajahnya mirip Tom Hanks, tapi hanya Tom Hanks di dalam film
di mana ia terdampar di sebuah pulau sepi, tujuh belas bulan tidak pernah bertemu
manusia dan mulai berbicara dengan sebuah bola voli. Jika kita bertanya tentang
jenggotnya yang awut-awtuan, beliau tidak akan repot-repot berdalih tapi segera
menyodorkan sebuah buku karya Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandhallawi Rah,
R.A. yang berjudul Keutamaan Memelihara Jenggot. Cukup membaca pengantarnya saja
Anda akan merasa malu sudah bertanya.
K.A. pada nama depan Pak Harfan berarti Ki Agus. Gelar K.A. mengalir dalam
garis laki-laki silsilah Kerajaan Belitong. Selama puluhan tahun keluarga besar yang amat
bersahaja ini berdiri pada garda depan pendidikan disana. Pak Harfan telah puluhan
tahun mengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apa pun demi motif
syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di pekarangan
rumahnya.
Hari ini Pak Harfan mengenakan baju takwa yang dulu pasti berwarna hijau tapi
kini warnanya pudar menjadi putih. Bekas-bekas warna hijau masih kelihatan di baju itu.
Kaus dalamnya berlubang di beberapa bagian dan beliau mengenakan celana panjang
yang lusuh karena terlalu sering dicuci. Seutas ikat pinggang plastik murahan bermotif
ketupat melilit tubuhnya. Lubang ikat pinggang itu banyak berderet-deret, mungkin telah
dipakai sejak beliau berusia belasan.
Karena penampilan Pak Harfan agak seperti beruang madu maka ketika pertama
kali melihatnya kami merasa takut. Anak kecil yang tak kuat mental bisa-bisa langsung
terkena sawan. Namun, ketika beliau angkat bicara, tak dinyana, meluncurlah mutiara-
mutiara nan puitis sebagai prolog penerimaan selamat datang penuh atmosfer sukacita di
sekolahnya yang sederhana. Kemudian dalam waktu yang amat singkat beliau telah
merebut hati kami. Bapak yang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentang
perahu Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari banjir bandang.
“Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan datang …,” demikian
ceritanya dengan wajah penuh penghayatan.
“Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikan telinga mereka, hingga
mereka musnah dilamun ombak ….”
Sebuah kisah yang sangat mengesankan. Pelajaran moral pertama bagiku: jika tak
rajin sahalat maka pandai-pandailah berenang.
Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah cerita peperangan besar zaman
Rasulullah di mana kekuatan dibentuk oleh iman bukan oleh jumlah tentara: perang
Badar! Tiga ratus tiga belas tentara Islam mengalahkan ribuan tentara Quraisy yang kalap
dan bersenjata lengkap.
“Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat-tempat
kematian kalian dalam masa tiga hari!” Demikian Pak Harfan berteriak lantang sambil
menatap langit melalui jendela kelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang
penduduk Mekkah, firasat kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar.
Mendengar teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami
ternganga karena suara Pak Harfan yang berat menggetarkan benang-benang halus dalam
kalbu kami. Kami menanti liku demi liku cerita dalam detik-detik menegangkan dengan
dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan para penegak Islam. Lalu Pak Harfan
mendinginkan suasana yang berkisah tentang penderitaan dan tekanan yang dialami
seorang pria bernama Zubair bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah
payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, mendirikan sekolah
dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian
muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban
habis-habisan melanjutkan sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah.
Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra
Selatan.
Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang badar sekaligus
setenang embusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap pilihan kata dan gerak lakunya
yang memikat.Adasemacam pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia
mengesankan sebagai pria yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahan
hidup, berpengetahuan seluas samudra, bijak, berani mengambil risiko, dan menikmati
daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar setiap orang
mengerti.
Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal “guru” yang
sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya,India, yaitu orang yang tak hanya
mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan
pembimbing spiritual bagi muridnya. Beliau sering menaikturunkan intonasi, menekan
kedua ujung meja sambil mempertegas kata-kata tertentu, dan mengangkat kedua
tangannya laksana orang berdoa minta hujan.
Ketika mengajukan pertanyaan beliau berlari-lari kecil mendekati kami, menatap
kami penuh arti dengan pandangan matanya yang teduh seolah kami adalah anak-anak
Melayu yang paling berharga. Lalu membisikkan sesuatu di telinga kami, menyitir
dengan lancar ayat-ayat suci, menantang pengetahuan kami, berpantun, membelai hati
kami dengan wawasan ilmu, lalu diam, diam berpikir seperti kekasih merindu, indah
sekali.
Beliau menorehkan benang merah kebenaran hidup yang sederhana melalui katakatanya
yang ringan namun bertenaga seumpama titik-titik air hujan. Beliau
mengobarkan semangat kami utnuk belajar dan membuat kami tercengang dengan
petuahnya tentang keberanian pantang menyerah melawan kesulitan apa pun. Pak Harfan
memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan,
tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup
bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban
untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap
jauh ke dalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah
untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.
Kami tak berkedip menatap sang juru kisah yang ulung ini. Pria ini buruk rupa
dan buruk pula setiap apa yang disandangnya, tapi pemikirannya jernih dan kata-katanya
bercahaya. Jika ia mengucapkan sesuatu kami pun terpaku menyimaknya dan tak sabar
menunggu untaian kata berikutnya. Tiba-tiba aku merasa sangat beruntung didaftarkan
orangtuaku di sekolah miskin Muhammadiyah. Aku merasa telah terselamatkan karena
orangtuaku memilih sebuah sekolah Islam sebagai pendidikan paling dasar bagiku. Aku
merasa amat beruntung berada di sini, di tengah orang-orang yang luar biasa ini. Ada
keindahan di sekolah Islam melarat ini. Keindahan yang tak ‘kan kutukar dengan seribu
kemewahan sekolah lain.
Setiap kali Pak Harfan ingin menguji apa yang telah diceritakannya kami
berebutan mengangkat tangan, bahkan kami mengacung meskipun beliau tak bertanya,
dan kami mengacung walaupun kami tak pasti akan jawaban. Sayangnya bapak yang
penuh daya tarik ini harus mohon diri. Satu jam dengannya terasa hanya satu menit. Kami
mengikuti setiap inci langkahnya ketika meninggalkan kelas. Pandangan kami melekat
tak lepas-lepas darinya karena kami telah jatuh cinta padanya. Beliau telah membuat
kami menyayangi sekolah tua ini. Kuliah umum dari Pak Harfan di hari pertama kami
masuk SD Muhammadiyah langsung menancapkan tekad dalam hati kami untuk
membela sekolah yang hampir rubuh ini, apa pun yang terjadi.
Kelas diambil alih oleh Bu Mus. Acaranya adalah perkenalan dan akhirnya tibalah
giliran A Kiong. Tangisnya sudah reda tapi ia masih terisak. Ketika diminta ke depan
kelas ia senang bukan main. Sekarang di sela-sela isaknya ia tersenyum. Ia menggoyanggoyangkan
tubuhnya. Tangan kirinya memegang botol air yang kosong—karena isinya
tadi ditumpahkanSahara—dan tangan kanannya menggenggam kuat tutup botol itu.
“Silahkan ananda perkenalkan nama dan alamat rumah …,” pinta Bu Mus lembut
pada anak Hokian itu.
A Kiong menatap Bu Mus dengan ragu kemudian ia kembali tersenyum.
Bapaknya menyeruak di antara kerumunan orangtua lainnya, ingin menyaksikan anaknya
beraksi. Namun, meskipun berulang kali ditanya A Kiong tidak menjawab sepatah kata
pun. Ia terus tersenyum dan hanya tersenyum saja.
“Silakan ananda …,” Bu Mus meminta sekali lagi dengan sabar.
Namun sayang A Kiong hanya menjawabnya dengan kembali tersenyum. Ia
berkali-kali melirik bapaknya yang kelihatan tak sabar. Aku dapat membaca pikiran
ayahnya, “Ayolah anakku, kuatkan hatimu, sebutkan namamu! Paling tidak sebutkan
nama bapakmu ini, sekali saja! Jangan bikin malu orang Hokian!” Bapak Tionghoa
berwajah ramah ini dikenal sebagai seorang Tionghoa kebun, strata ekonomi terendah
dalam kelas sosial orang-orang Tionghoa di Belitong.
Namun, sampai waktu akan berakhir A Kiong masih tetap saja tersenyum. Bu
Mus membujuknya lagi.
“Baiklah ini kesempatan terakhir untukmu mengenalkan diri, jika belum bersedia
maka harus kembali ke tempat duduk.”
A Kiong malah semakin senang. Ia masih sama sekali tak menjawab. Ia
tersenyum lebar, matanya yang sipit menghilang. Pelajaran moral nomor dua: jangan
tanyakan nama dan alamat pada orang yang tinggal di kebun. Maka berakhirlah
perkenalan di bulan Februari yang mengesankan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar