"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata
PEREMPUAN-PERMPUAN PERKASA
AKU pernah membaca kisah tentang wanita yang membelah batu karang untuk
mengalirkan air, wanita yang menenggelamkan diri belasan tahun sendirian di tengah
rimba untuk menyelamatkan beberapa keluarga orang utan, atau wanita yang berani
mengambil risiko tertular virus ganas demi menyembuhkan penyakit seorang anak yang
sama sekali tak dikenalnya nun jauh diSomalia. Di sekolah Muhammadiyah setiap hari
aku membaca keberanian berkorban semacam itu di wajah wanita muda ini.
N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau kami
memanggilnya Bu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian
Putri), namun beliau bertekad melanjutkan cita-cita ayahnya—K.A. Abdul Hamid,
pelopor sekolah Muhammadiyah di Belitong—untuk terus mengobarkan pendidikan
Islam. Tekad itu memberinya kesulitan hidup yang tak terkira, karena kami kekurangan
guru—lagi pula siapa yang rela diupah beras 15 kilo setiap bulan? Maka selama enam
tahun di SD Muhammadiyah, beliau sendiri yang mengajar semua mata pelajaran—mulai
dari Menulis Indah, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Ilmu Bumi, sampai
Matematika, Geografi, Prakarya, dan Praktik Olahraga. Setelah seharian mengajar, beliau
melanjutkan bekerja menerima jahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah,
menopang hidup dirinya dan adik-adinya.
BU MUS adalah seroang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan
jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan
kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan,
dan hak-hak asasi—jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan soal
materialisme versus pembangunan spiritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu
menuntun kami membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks
Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik
karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah
Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks
legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya.
“Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu
menasihati kami.
Bukankah ini kata-kata yang diilhami surah An-Nisa dan telah diucapkan ratusan
kali oleh puluhan khatib? Sering kali dianggap sambil lalu saja oleh umat. Tapi jika yang
mengucapkannya Bu Mus kata-kata itu demikian berbeda, begitu sakti, berdengungdengung
di dalam kalbu. Yang terasa kemudian adalah penyesalan mengapa telah
terlamabat shalat.
Pada kesempatan lain, karena masih kecil tentu saja, kami sering mengeluh
mengapa sekolah kami tak seperti sekolah-sekolah lain. Terutama atap sekolah yang
bocor dan sangat menyusahkan saat musim hujan. Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi
mengeluarkan sebuah buku berbahasa Belanda dan memerplihatkan sebuah gambar.
Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang
suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh
kekerasan dan kesedihan.
“inilah sel Pak Karno di sebuah penjara diBandung, di sini beliau menjalani
hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu
orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.”
Beliau tak melanjutkan ceritanya.
Kami tersihir dalam senyap. Mulai saat itu kami tak pernah lagi memprotes
keadaan sekolah kami. Pernah suatu ketika hujan turun amat lebat, petir sambar
menyambar.Trapanidan Mahar memakai terindak, topi kerucut dari daun lais khas
tentara Vietkong, untuk melindungi jambul mereka. Kucai, Borek, danSaharamemakai
jas hujan kuning bergambar gerigi metal besar di punggungnya dengan tulisan “UPT Bel”
(Unit Penambangan Timah Belitong)—jas hujan jatah PN Timah milik bapaknya. Kami
sisanya hampir basah kuyup. Tapi sehari pun kami tak pernah bolos, dan kami tak pernah
mengeluh, tidak, sedikit pun kami tak pernah mengeluh.
Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang
sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan guru spiritual. Mereka
yang pertama menjelaskan secara gamblang implikasi amar makruf nahi mungkar
sebagai pegangan moral kami sepanjang hayat. Mereka mengajari kami membuat rumahrumahan
dari perdu apit-apit, mengusap luka-luka di kaki kami, membimbing kami cara
mengambil wudu, melongok ke dalam sarung kami ketika kami disunat, mengajari kami
doa sebelum tidur, memompa ban sepeda kami, dan kadang-kadang membuatkan kami
air jeruk sambal.
Mereka adalah ksatriatampapamrih, pangeran keikhlasan, dan sumur jernih ilmu
pengetahuan di ladang yang ditinggalkan. Sumbangan mereka laksana manfaat yang
diberikan pohon filicium yang menaungi atap kelas kami. Pohon ini meneduhi kami dan
dialah saksi seluruh drama ini. Seperti guru-guru kami, filicium memberi napas
kehidupan bagi ribuan organisme dan menjadi tonggak penting mata rantai ekosistem.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar