Rabu, 27 April 2016

Bab 4

"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata

BAB IV
PEREMPUAN-PERMPUAN PERKASA

 AKU pernah membaca kisah tentang wanita yang membelah batu karang untuk
 mengalirkan air, wanita yang menenggelamkan diri belasan tahun sendirian di tengah
 rimba untuk menyelamatkan beberapa keluarga orang utan, atau wanita yang berani
 mengambil risiko tertular virus ganas demi menyembuhkan penyakit seorang anak yang
 sama sekali tak dikenalnya nun jauh diSomalia. Di sekolah Muhammadiyah setiap hari
 aku membaca keberanian berkorban semacam itu di wajah wanita muda ini.
 N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau kami

 memanggilnya Bu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian
 Putri), namun beliau bertekad melanjutkan cita-cita ayahnya—K.A. Abdul Hamid,
 pelopor sekolah Muhammadiyah di Belitong—untuk terus mengobarkan pendidikan
 Islam. Tekad itu memberinya kesulitan hidup yang tak terkira, karena kami kekurangan
 guru—lagi pula siapa yang rela diupah beras 15 kilo setiap bulan? Maka selama enam
 tahun di SD Muhammadiyah, beliau sendiri yang mengajar semua mata pelajaran—mulai
 dari Menulis Indah, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Ilmu Bumi, sampai
 Matematika, Geografi, Prakarya, dan Praktik Olahraga. Setelah seharian mengajar, beliau
 melanjutkan bekerja menerima jahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah,
 menopang hidup dirinya dan adik-adinya.
 BU MUS adalah seroang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan
 jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan
 kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan,
 dan hak-hak asasi—jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan soal
 materialisme versus pembangunan spiritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu
 menuntun kami membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks
 Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik
 karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah
 Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks
 legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya.
 “Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu
 menasihati kami.
 Bukankah ini kata-kata yang diilhami surah An-Nisa dan telah diucapkan ratusan
 kali oleh puluhan khatib? Sering kali dianggap sambil lalu saja oleh umat. Tapi jika yang
 mengucapkannya Bu Mus kata-kata itu demikian berbeda, begitu sakti, berdengungdengung
 di dalam kalbu. Yang terasa kemudian adalah penyesalan mengapa telah

 terlamabat shalat.
 Pada kesempatan lain, karena masih kecil tentu saja, kami sering mengeluh
 mengapa sekolah kami tak seperti sekolah-sekolah lain. Terutama atap sekolah yang
 bocor dan sangat menyusahkan saat musim hujan. Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi
 mengeluarkan sebuah buku berbahasa Belanda dan memerplihatkan sebuah gambar.
 Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang
 suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh
 kekerasan dan kesedihan.
 “inilah sel Pak Karno di sebuah penjara diBandung, di sini beliau menjalani
 hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu
 orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.”
 Beliau tak melanjutkan ceritanya.
 Kami tersihir dalam senyap. Mulai saat itu kami tak pernah lagi memprotes
 keadaan sekolah kami. Pernah suatu ketika hujan turun amat lebat, petir sambar
 menyambar.Trapanidan Mahar memakai terindak, topi kerucut dari daun lais khas
 tentara Vietkong, untuk melindungi jambul mereka. Kucai, Borek, danSaharamemakai
 jas hujan kuning bergambar gerigi metal besar di punggungnya dengan tulisan “UPT Bel”
 (Unit Penambangan Timah Belitong)—jas hujan jatah PN Timah milik bapaknya. Kami
 sisanya hampir basah kuyup. Tapi sehari pun kami tak pernah bolos, dan kami tak pernah
 mengeluh, tidak, sedikit pun kami tak pernah mengeluh.
 Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang
 sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan guru spiritual. Mereka
 yang pertama menjelaskan secara gamblang implikasi amar makruf nahi mungkar
 sebagai pegangan moral kami sepanjang hayat. Mereka mengajari kami membuat rumahrumahan
 dari perdu apit-apit, mengusap luka-luka di kaki kami, membimbing kami cara
 mengambil wudu, melongok ke dalam sarung kami ketika kami disunat, mengajari kami

 doa sebelum tidur, memompa ban sepeda kami, dan kadang-kadang membuatkan kami
 air jeruk sambal.
 Mereka adalah ksatriatampapamrih, pangeran keikhlasan, dan sumur jernih ilmu
 pengetahuan di ladang yang ditinggalkan. Sumbangan mereka laksana manfaat yang
 diberikan pohon filicium yang menaungi atap kelas kami. Pohon ini meneduhi kami dan
 dialah saksi seluruh drama ini. Seperti guru-guru kami, filicium memberi napas

 kehidupan bagi ribuan organisme dan menjadi tonggak penting mata rantai ekosistem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar