"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata
BAB VIII
CENTER OF EXCELLENCE
SEKOLAH-SEKOLAH PN Timah, yaituTK,SD, dan SMP PN berada dalam kawasan
Gedong. Sekolah-sekolah ini berdiri megah di bawah naungan Aghatis berusia ratusan
tahun dan dikelilingi pagar besi tinggi berulir melambangkan kedisiplinan dan mutu
tinggi pendidikan. Sekolah PN merupakan center of excellenceatau tempat bagi semua
hal yang terbaik. Sekolah ini demikian kaya raya karena didukung sepenuhnya oleh PN
Timah, sebuah korporasi yang kelebihan duit. Institusi pendidikan yang sangat modern
ini lebih tepat disebut percontohan bagaimana seharusnya generasi muda dibina.
Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah indahnya
dengan rumah bergayaVictoriadi sekitarnya. Ruangan kelasnya dicat warna-warni
dengan tempelan gambar kartun yang edukatif, poster operasi dasar matematika, tabel
pemetaan unsur kimia, peta dunia, jam dinding, termometer, foto para ilmuwan dan
penjelajah yang memberi inspirasi, dan ada kapstok topi. Di setiap kelas ada patung
anatomi tubuh yang lengkap, globe yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi
planet-planet.
Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa brilian bersaing ketat dalam standar mutu
yang sanggat tinggi. Sekolah-sekolah ini memiliki perpustakaan, kantin, guru BP,
laboratorium, perlengkapan kesenian, kegiatan ekstrakurikuler yang bermutu, fasilitas
hiburan, dan sarana olahraga—termasuk sebuah kolam renang yang masih disebut dalam
bahasa Belanda: zwembad. Di depan pintu masuk kolam renang ini tentu saja terpampang
peringatan tegas “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Di
setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan pertama. Kalau ada siswanya
yang sakit maka ia akan langsung mendapatkan pertolongan cepat secara profesional atau
segera dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung.
Mereka memiliki petugas-petugas kebersihan khusus, guru-guru yang bergaji
mahal, dan para penjaga sekolah yang berseragam seperti polisi lalu lintas dan selalu
meniup-niup peluit. Tali merah bergulung-gulung keren sekali di bahu seragamnya itu.
“Jumlah gurunya banyak.”
Demikian ujar Bang Amran Isnaini bin Muntazis Ilham—yang pernah sekolah di
sana—persis pada malam sebelum esoknya aku masuk pertama kali di SD
Muhammadiyah itu.
Aku termenung.
“Setiap pelajaran ada gurunya masing-masing, walaupun kau baru kelas satu.”
Maka pada malam itu aku tak bsia tidur akibat pusing menghitung berapa banyak
jumlah guru di sekolah PN, tentu saja juga selain karena rasa senang akan masuk sekolah
besok.
Murid PN umumnya anak-anak orang luar Belitong yang bapaknya menjadi
petinggi di PN. Sekolah ini juga menerima anak kampung seperti Bang Amran, tapi tentu
saja yang orangtuanya sudah menjadi orang staf. Mereka semua bersih-bersih, rapi, kaya,
necis, dan pintar-pintar luar biasa. Mereka selalu mengharumkan nama Belitong dalam
lomba-lomba kecerdasan, bahkan sampai tingkat nasional. Sekolah PN sering dikunjungi
para pejabat, pengawas sekolah, atau sekolah lain untuk melakukan semacam
benchmarking, melihat bagaimana seharusnya ilmu pengetahuan ditransfer dan
bagaimana anak-anak kecil dididik secara ilmiah.
Pendaftaran hari pertama di sekolah PN adalah sebuah perayaan penuh sukacita.
Puluhan mobil mewah berderet di depan sekolah dan ratusan anak orang kaya mendaftar.
Adabazar dan pertunjukan seni para siswa. Setiap kelas bisa menampung hampir
sebanyak 40 siswa dan paling tidak ada 4 kelas untuk setiap tingkat. SD PN tidak akan
membagi satu pun siswanya kepada sekolah-sekolah lain yang kekurangan murid karena
sekolah itu memiliki sumber daya yang melimpah ruah untuk mengakomodasi berapa
pun jumlah siswa baru. Lebih dari itu, bersekolah di PN adalah sebuah kehormatan,
hingga tak seorang pun yang berhak sekolah di situ sudi dilungsurkan ke sekolah lain.
Ketika mendaftar badan mereka langsung diukur untuk tiga macam seragam
harian dan dua macam pakaian olah raga. Mereka juga langsung mendapat kartu
perpustakaan dan bertumpuk-tumpuk buku acuan wajib. Seragamnya untuk hari Senin
adalah baju biru bermotif bunga rambat yang indah. Sepatu yang dikenakan berhak dan
berwarna hitam mengilat. Sangat gagah ketika ber- marching bandmelintasi kampung.
Melihat mereka aku segera teringat pada sekawanan anak kecil yang lucu, putih, dan
bersayap, yang turun dari awan—seperti yang biasa kita lihat pada gambar-gambar buku
komik. Setiap pagi para murid PN dijemput oleh bus-bus sekolah berwarna biru.
Kepala sekolahnya adalah seorang pejabat penting, Ibu Frischa namanya. Caranya
ber- make upjelas memperlihatkan dirinya sedang bertempur mati-matian melawan usia
dan tampak jelas pula, dalam pertempuran itu, beliau telah kalah. Ia seorang wanita keras
yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan menghina sekolah
kampung. Gerak geriknya diatur sedemikian rupa sebagai penegasan kelas sosialnya. Di
dekatnya siapa pun akan merasa terintimidasi.
Kalau sempat berbicara dengan beliau, maka ia sama seperti orang Melayu yang
baru belajar memasak, bumbunya cukup tiga macam: pembicaraan tentang fasilitasfasilitas
sekolah PN, anggaran ekstrakurikuler jutaan rupiah, dan tentang murid-muridnya
yang telah menajdi dokter, insinyur, ahli ekonomi, pengusaha, dan orang-orang sukses di
kotaatau bahkan di luar negeri. Bagi kami yang waktu itu masih kecil, masih
berpandangan hitam putih, beliau adalah seorang tokoh antagonis.
Yang dimaksud dengan sekolah kampung tentu saja adalah perguruan
Muhammadiyah dan beberapa sekolah swasta miskin lainnya di Belitong. Selain sekolah
miskin itu memang terdapat pula beberapa sekolah negeri di kampung kami. Namun
kondisi sekolah negeri tentu lebih baik karena mereka disokong oleh negara. Sementara
sekolah kampung adalah sekolah swadaya yang kelelahan menyokong dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar