"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata
G E D O N G
PULAU Belitong yang makmur seperti mengasingkan diri dari tanahSumatrayang
membujur dan disanamengalir kebudayaan Melayu yang tua. Pada abad ke-19, ketika
korporasi secara sistematis mengeksploitasi timah, kebudayaan bersahaja itu mulai hidup
dalam karakteristik sosiologi tertentu yang atribut-atributnya mencerminkan perbedaan
sangat mencolok seolah berdasarkan status berkasta-kasta. Kasta majemuk itu tersusun
rapi mulai dari para petinggi PN Timah yang disebut “orang staf” atau urang setap dalam
dialek lokal sampai pada para tukang pikul pipa di instalasi penambangan serta warga
suku Sawang yang menjadi buruh-buruh yuka penjahit karung timah. Salah satu atribut
diskriminasi itu adalah sekolah-sekolah PN.
Maka lahirlah kaum menak, implikasi dari institusi yang ingin memelihara citra
aristokrat. PN melimpahi orang staf dengan penghasilan dan fasilitas kesehatan,
pendidikan, promosi, transportasi, hiburan, dan logistik yang sangat diskriminatif
dibanding kompensasi yang diberikan kepada mereka yang bukan orang staf. Mereka,
kaum borjuis ini, bersemayam di kawasan eksklusif yang disebut Gedong. Mereka seperti
orang-orang kulit putih di wilayah selatan Amerika pada tahun 70-an. Feodalisme di
Belitong adalah sesuatu yang unik, karena ia merupakan konsekuensi dari adanya budaya
korporasi, bukan karena tradisi paternalistik dari silsilah, subkultur, atau privilese yang
dianugerahkan oleh penguasa seperti biasa terjadi di berbagai tempat lain.
Sepadan dengan kebun gantung yang memesona di pelataran menaraBabylonia,
sebuah taman kesayangan Tiran Nebuchadnezzar III untuk memuja Dewa Marduk,
Gedong adalah land markBelitong. Ia terisolasi tembok tinggi berkeliling dengan satu
akses keluar masuk seperti konsep cul de sacdalam konsep pemukiman modern.
Arsitektur dan desain lanskapnya bergaya sangat kolonial. Orang-orang yang tinggal di
dalamnya memiliki nama-nama yang aneh, misalnya Susilo, Cokro, Ivonne, Setiawan,
atau Kuntoro, tak ada Muas, Jamali, Sa’indun, Ramli, atau Mahader seperti nama orangorang
Melayu, dan mereka tidak pernah menggunakan bin atau binti.
Gedong lebih seperti sebuahkotasatelit yang dijaga ketat oleh para Polsus (Polisi
Khusus) Timah. Jika ada yang lancang masuk maka koboi-koboi tengik itu akan
menyergap, mengintergoasi, lalu interogasi akan ditutup dengan mengingatkan sang
tangkapan pada tulisan “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”
yang bertaburan secara mencolok pada berbagai akses dan fasilitas disana, sebuah power
statementtipikal kompeni.
Kawasan warisan Belanda ini menjunjung tinggi kesan menjaga jarak, dan kesan
itu diperkuat oleh jajaran pohon-pohon saga tua yang menjatuhkan butir-butir buah
semerah darah di atas kap mobil-mobil mahal yang berjejal-jejal sampai keluar garasi. Di
sana, rumah-rumah mewah besar bergayaVictoriamemiliki jendela-jendela kaca lebar
dan tinggi dengan tirai yang berlapis-lapis laksana layar bioskop. Rumah-rumah itu
ditempatkan pada kontur yang agak tinggi sehingga kelihatan seperti kastil-kastil kaum
bangsawan dengan halaman terpelihara rapi dan danau-danau buatan. Di dalamnya hidup
tenteram sebuah keluarga kecil dengan dua atau tiga anak yang selalu tampak damai,
temaram, dan sejuk.
Setiap rumah memiliki empat bangunan terpisah yang disambungkan oleh selasarselasar
panjang. Itulah rumah utama sang majikan, rumah bagi para pembantu, garasi,
dan gudang-gudang. Selasar-selasar itu mengelilingi kolam kecil yang ditumbuhi
Nymphaea caereuleaatau the blue water lilyyang sangat menawan dan di tengahnya
terdapat patung anak-anak gendut semacam Manequin Piss legenda negeri Belgia yang
menyemprotkan air mancur sepanjang waktu dari kemaluan kecilnya yang lucu.
Pot-pot kayu anggrek mahal Tainia shimadaidan Chysisdigantungkan berderetderet
di bibir atap selasar dan di bawahnya tersusun rapi bejana keramik antik bertanggatangga
berisi kaktus Chaemasereasdan Parodia scopa. Untuk urusan bunga ini ada
petugas khusus yang merawatnya. Di luar lingkar kolam didirikan sebuah kandang
berlubang kotak-kotak kecil persegi berbentuk piramida yang berseni dan ditopang oelh
sebuah pilar bergaya Romawi, itulah rumah burung merpati Inggris.
Di dalam rumah utama sang majikan terdapat ruang tamu dengan lampu-lampu
yang teduh dan perabot utama disanaadalah sebuah sofa Victorian rosewoodberwarna
merah. Jika duduk di atasnya seseorang dapat merasa dirinya seperti seorang paduka raja.
Di samping ruang tamu adalah ruang makan tempat para penghuni rumah makan malam
mengenakan busana senja yang terbaik dan bersepatu. Di meja makan mewah dengan
kayu cinnamon glaze, mereka duduk mengelilingi makanan yang namanya bahkan belum
ada terjemahannya. Pertama-tama perangsang lapar pumpkin and Gorgonzola soup, lalu
hadir caesar saladmenu utama, chicken cordon bleu, vitello alla Provenzale, atau ….
Pada bagian akhir sebagai makanan penutup adalah creamy cheesecake topped with
stawberry puree, buah-buah persik dan prem.
Mereka makan dengan tenang sembari mendengarkan musik klasik yang elegan:
Mozart: Haffner No. 35 in D Major. Mereka mematuhi table manner. Setelah
melampirkan serbet di atas pangkuannya makan malam dimulai nyaris tanpa suara dan
tak ada seorang pun yang menekan bibir meja dengan sikunya.
Sarapan pagi disajikan di ruangan yang berbeda. Ruangan ini terbuka, menghadap
ke kebun anggrek dan kolam renang dangkal yang biru. Mejanya juga berbeda yakni
terracotta tile top ovalyang lucu namun berkelas. Di pagi hari mereka senang mencicipi
omelet dan menyeruput the Earl Greyatau cappuccino, lalu mereka melemparkan remahremah
roti pada burung-burung merpati Inggris yang berebutan, rakus tapi jinak.
Halaman setiap rumah sangat luas dan tak dipagar. Kebanyakan didekorasi
dengan karya seni instalasi dari konstruksi logam yang maknanya tak mudah dicerna
orang awam. Hamparan rumput manila di halaman menyentuh lembut bibir jalan raya
dengan tinggi permukaan yang sama.Adadaya tarik tersendiri di situ. Tak ada parit,
karena semua sistem pembuangan diatur di bawah tanah. Pekarangan ditumbuhi pinang
raja, bambu Jepang, pisang kipas, dan berjenis-jenis palem yang berselang-seling di
antara taman-taman bunga umum, ornamen, galeri, angsa-angsa besar yang berkeliaran,
kafe members only, patung-patung, snooker bar, sudut-sudut tempat bermain anak-anak
berisi ayam-ayam kalkun yang dibiarkan bebas, trotoar untuk membawa anjing jalanjalan,
kolam-kolam renang, dan lapangan-lapangan golf. Tenang dan tidak berisik,
kecuali sedikit bunyi, rupanya anjing pudel sedang mengejar beberapa ekor kucing
anggora.
Namun, selain suara hewan-hewan lucu itu sore ini terdengar lamat-lamat denting
piano dari salah satu kastilVictoriayang terututp rapat berpilar-pilar itu. Floriana atau
Flo yang tomboi, salah seorang siswa sekolah PN, sedang les piano. Guru privatnya
sangat bersemangat tapi Flo sendiri terkantuk-kantuk tanpa minat. Kedua tangannya
menopang wajah murungnya sambil menguap berulang-ulang di samping sebuah
instrumen megah: grand pianomerk Steinway and sonsyang hitam, dingin, dan
berkilauan. Wajah Flo seperti kucing kebanyakan tidur dan bangun magrib-magrib.
Bapaknya—seorang Mollen Bas, kepala semua kapal keruk—duduk di sebuah
kursi besar semacam singgasana sehingga tubuh kecilnya tenggelam. Kakinya dibungkus
sepatu mahal De Carlocokelat yang elegan, tergantung berayun-ayun lucu. Ia geram
pada tingkah si tomboi dan malu pada sang guru, seorang wanita berkacamata, setengah
baya, berwajah cerdas dan hanya bisa tersenyum-senyum. Beliau tak henti-henti
memohon maaf pada wanita Jawa yang sangat santun itu atas kelakuan anaknya.
Bapak Flo adalah orang hebat, seseorang yang amat terpelajar. Ia adalah insinyur
lulusan terbaik dari Technische Universiteit Delfdi Holland dari Fakultas
Werktuiqbouwkunde, Maritieme techniek & technische materiaalwetenschappen, yang
artinya kurang lebih: jago teknik.
Ia adalah salah satu dari segelintir orang Melayu asli Belitong yang berhak tinggal
di Gedong dan orang kampung yang mampu mencapai karier tinggi di jajaran elite orang
staf karena kepintarannya. Sebagai Mollen Basbeliau sanggup mengendalikan shift
ribuan karyawan, memperbaiki kerusakan kapal keruk yang tenaga-tenaga ahli asing
sendiri sudah menyerah, dan mengendalikan aset produksi miliaran dolar. Tapi
menghadapi anak perempuan kecilnya, si tomboi gasing yang tak bisa diatur ini, beliau
hampir menyerah. Semakin keras suara bapaknya menghardik semakin lebar Flo
menguap.
Pokok perkaranya sederhana, yakni beliau telah memiliki beberapa anak laki-laki
dan Flo si bungsu, adalah anak perempuan satu-satunya. Namun anak perempuannya ini
bersikeras ingin menjadi laki-laki. Setiap hari beliau berusaha memerempuankanFlo
antara lain dengan memaksanya kursus piano. Grand pianoitu didatangkan dengan kapal
khusus dariJakarta. Guru privat yang merupakan seorang instruktur musik profesional,
juga khusus dijemput dari Tanjong Pandan. Lebih dari itu, di sela kesibukannya,
bapaknya rela menunggui Flo kursus, namun yang beliau dapat tak lebih dari uapanuapan
itu. Flo bahkan tak berminat menyentuh tuts-tuts hitam putih yang berkilat-kilat
karena pikirannya melayang ke sasana tempat ia latihan kick boxingdan angkat barbel.
Flo tak suka menerima dirinya sebagai seorang perempuan. Mungkin karena
pengharuh dari saudara-saudara kandungnya yang seluruhnya laki-laki atau karena suatu
ketidakseimbangan dalam kimia tubuhnya. Maka ia memotong rambut dengan model
lurus pendek dan ia belajar mengubah ekspresi wajah cantiknya agar merefleksikan
seringai laki-laki. Ia bercelana jeans, kaos oblong, dan membuang anting-anting yang
dibelikan ibunya. Guru privat itu memperkenalkan dengan lembut notasi do, mi, sol, si
dalam lintasan empat oktaf dan memperlihatkan posisi jari-jemari pada setiap notasi itu
sebagai dasar bagi Flo untuk berlatih fingering. Flo menguap lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar