Rabu, 27 April 2016

Bab 2

"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata

BAB II
ANTEDILUVIUM

 IBU Muslimah yang beberapa menit lalu sembap, gelisah, dan coreng-moreng kini
 menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum. Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan
 posturnya yang jangkung persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarna bunga
 crinum demikian pula bau bajunya, persis crinum yang mirip bau vanili. Sekarang dengan
 ceria beliau mengatur tempat duduk kami.
 Bu Mus mendekati setiap orangtua murid di bangku panjang tadi, berdialog
 sebentar dengan ramah, dan mengabsen kami. Semua telah masuk ke dalam kelas, telah
 mendapatkan teman sebangkunya masing-masing, kecuali aku dan anak laki-laki kecil
 kotor berambut keriting merah yang tak kukenal tadi. Ia tak bisa tenang. Anak ini berbau
 hangus seperti karet terbakar.
 “Anak Pak Cik akan sebangku dengan Lintang,” kata Bu Mus pada ayahku.
 Oh, itulah rupanya namanya, Lintang, sebuah nama yang aneh.
 Mendengar keputusan itu Lintang meronta-ronta ingin segera masuk kelas.
 Ayahnya berusaha keras menenangkannya, tapi ia memberontak, menepis pegangan
 ayahnya, melonjak, dan menghambur ke dalam kelas mencari bangku kosongnya sendiri.
 Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang,
 tak mau turun lagi. Ayahnya telah melepaskan belut yang licin itu, dan anaknya baru saja
 meloncati nasib, merebut pendidikan.
 Bu Mus menghampiri ayah Lintang. Pria itu berpotongan seperti pohon cemara
 angin yang mati karena disambar petir: hitam, meranggas, kurus, dan kaku. Beliau adalah
 seorang nelayan, namun pembukaan wajahnya yang mirip orang Bushman adalah raut
 wajah yang lembut, baik hati, dan menyimpan harap. Beliau pasti termasuk dalam
 sebagian besar warga negaraIndonesiayang menganggap bahwa pendidikan bukan hak

 asasi.
 Tidak seperti kebanyakan nelayan, nada bicaranya pelan. Lalu beliau bercerita
 pada Bu Mus bahwa kemarin sore kawanan burung pelintang pulau mengunjungi pesisir.
 Burung-burung keramat itu hinggap sebentar di puncak pohon ketapang demi menebar
 pertanda bahwa laut akan diaduk badai. Cuaca cenderung semakin memburuk akhir-akhir
 ini maka hasil melaut tak pernah memadai. Apalagi ia hanya semacam petani penggarap,
 bukan karena ia tak punya laut, tapi karena ia tak punya perahu.
 Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu
 terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini
 beliau menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak
 akan menjadi seperti dirinya. Lintang akan duduk di samping pria kecil berambut ikal
 yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi setiap hari naik sepeda. Jika
 panggilan nasibnya memang harus menjadi nelayan maka biarkan jalan kerikil batu
 merah empat puluh kilometer mematahkan semangatnya. Bau hangus yang kucium tadi
 ternyata adalah bau sandal cunghai, yakni sandal yang dibuat dari ban mobil, yang aus
 karena Lintang terlalu jauh mengayuh sepeda.
 Keluarga Lintang berasal dari Tanjong Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut.
 Menuju kesanaharus melewati empat kawasan pohon nipah, temapt berawa-rawa yang
 dianggap seram di kampung kami. Selain itu disanajuga tak jarang buaya sebesar
 pangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis dapat dikatakan
 sebagai wilayah paling timur diSumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman
 Pulau Belitong. Bagi Lintang,kotakecamatan, tempat sekolah kami ini, adalah
 metropolitan yang harus ditempuh dengan sepeda sejak subuh. Ah! Anak sekecil itu ….
 Ketika aku menyusul Lintang ke dalam kelas ia menyalamiku dengan kuat seperti
 pegangan tangan calon mertua yang menerima pinangan. Energi yang berlebihan di
 tubuhnya serta-merta menjalar padaku laksana tersengat listrik. Ia berbicara tak henti henti penuh
minat dengan dialek Belitong yang lucu, tipikal orang Belitong pelosok. Bola

 matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Ia seperti pilea, bunga meriam itu,
 yang jika butiran air jatuh di atas daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan,
 mekar, dan penuh daya hidup. Di dekatnya, aku merasa seperti ditantang mengambil
 ancang-ancang untuk sprint seratus meter. Sekencang apa engkau berlari? Begitulah
 makna tatapannya.
 Aku sendiri masih bingung. Terlalu banyak perasaan untuk ditanggung seorang
 anak kecil dalam waktu demikian singkat. Cemas, senang, gugup, malu, teman baru, guru
 baru … semuanya bercampur aduk. Ditambah lagi satu perasaan ngilu karena sepasang
 sepatu baru yang dibelikan ibuku. Sepatu ini selalu kusembunyikan ke belakang. Aku
 selalu menekuk lututku karena warna sepatu itu hitam bergaris-garis putih maka ia
 tampak seperti sepatu sepak bola, jelek sekali. Bahannya pun dari plastik yang keras.
 Abang-abangku sakit perut menahan tawa melihat sepatu itu waktu kami sarapan pagi
 tadi. Tapi pandangan ayahku menyuruh mereka bungkam, membuat perut mereka kaku.
 Kakiku sakit dan hatiku malu dibuat sepatu ini.
 Sementara itu, kepala Lintang terus berputar-putar seperti burung hantu. Baginya,
 penggaris kayu satu meter, vas bunga tanah liat hasil prakarya anak kelas enam di atas
 meja Bu Mus, papan tulis lusuh, dan kapur tumpul yang berserakan di atas lantai kelas
 yang sebagian telah menjadi tanah, adalah benda-benda yang menakjubkan.
 Kemudian kulihat lagi pria cemara angin itu. Melihat anaknya demikian bergairah
 ia tersenyum getir. Aku mengerti bahwa pira yang tak tahu tanggal dan bulan
 kelahirannya itu gamang membayangkan kehancuran hati anaknya jika sampai drop out
 saat kelas dua atau tiga SMP nanti karena alasan klasik: biaya atau tuntutan nafkah. Bagi
 beliau pendidikan adalah enigma, sebuah misteri. Dari empat garis generasi yang
 diingatnya, baru Lintang yang sekolah. Generasi kelima sebelumnya adalah masa
 antediluvium, suatu masa yang amat lampau ketika orang-orang Melayu masih berkelana
 sebagai nomad. Mereka berpakaian kulit kayu dan menyembah bulan.

 UMUMNYA Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kami berdasarkan
 kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal.Trapani
 duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti
 para penaltun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman.Trapanitak tertarik
 dengan kelas, ia mencuri-curi pandang ke jendela, melirik kepala ibunya yang muncul
 sekali-sekali di antara kepala orangtua lainnya.
 Tapi Borek (bacanya Bore’, “e”-nya itu seperti membaca elang, bukan seperti
 menyebut “e” pada kata edan, dan “k”-nya itu bukan “k” penuh, Anda tentu paham
 maksud saya) dan Kucai didudukkan berdua bukan karena mereka mirip tapi karena
 sama-sama susah diatur. Baru beberapa saat di kelas Borek sudah mencoreng muka
 Kucai dengan penghapus papan tulis. Tingkah ini diikutiSaharayang sengaja
 menumpahkan air minum A Kiong sehingga anak Hokian itu menangis sejadi-jadinya
 seperti orang ketakutan dipeluk setan. N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim
 Ramdhani Fadillah, gadis kecil berkerudung itu, memang keras kepala luar biasa.
 Kejadian itu menandai perseteruan mereka yang akan berlangsung akut bertahun-tahun.
 Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan yang menyenangkan pagi itu.
 Sebaliknya, bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampai puluhan tahun
 mendatang karena pagi itu aku melihat Lintang dengan canggung menggenggam sebuah
 pensil besar yang belum diserut seperti memegang sebilah belati. Ayahnya pasti telah
 keliru membeli pensil karena pensil itu memiliki warna yang berbeda di kedua ujungnya.
 Salah satu ujungnya berwarna merah dan ujung lainnya biru. Bukankah pensil semacam
 itu dipakai para tukang jahit untuk menggaris kain? Atau para tukang sol sepatu untuk
 membuat garis pola pada permukaan kulit? Sama sekali bukan untuk menulis.
 Buku yang dibeli juga keliru. Buku bersampul biru tua itu bergaris tiga. Bukankah
 buku semacam itu baru akan kami pakai nanti saat kelas dua untuk pelajaran menulis
 rangkai indah? Hal yang tak akan pernah kulupakan adalah bahwa pagi itu aku

 menyaksikan seorang anak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinya
 memegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiap apa pun
 yang ditulisnya merupakan buah pikiran yang gilang gemilang, karena nanti ia—seorang
 anak miskin pesisir—akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskin ini sebab
 ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur
 hidupku.

Bab 1

"NOVEL Laskar Pelangi"
by: Andrea Hirata

BAB I
SEPULUH MURID BARU

 PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas.
 Sebatang pohon filicium tua yang riang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku,
 memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada
 setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain di
 depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD.
 Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu
 miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu
 berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah
 seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah
 dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti
 ayahku, mereka berdua juga tersenyum.
 Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak
 jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali
 menghitung jumlah anak-anak yang duduk di bangku panjang. Ia demikian khawatir
 sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik
 keringat yang bertimbulan di seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang
 dikenakannya, membuat wajahnya coreng moreng seperti pameran emban bagi
 permaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kampung kami.
 “Sembilan orang … baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu…,”
 katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.
 Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan
 karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu
 ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung

 yang cepat. Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi
 seorang pria beruisa empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak
 banyak dan bergaji kecil, utnuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah
 menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai
 untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak
 berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara
 gampang bagi keluarga kami.
 “Kasihan ayahku ….”
 Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya.
 “Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginan sekolah, dan
 mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli ….”
 Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah orangtua di depanku
 mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran
 mereka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian
 laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh disana.Paraorangtua ini
 sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang hanya mampu mereka biayai
 paling tinggi sampai SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini
 mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa
 karena tak menyekolahkan anak atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru,
 tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf.
 Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali
 seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta-ronta dari  pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak
 mengenal anak beranak itu.
 Selebihnya adalah teman baikku.Trapanimisalnya, yang duduk di pangkuan
 ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa.

 Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu belitong dari sebuah
 komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga
 sekolah kampung yang paling miskin di Belitong.Adatiga alasan mengapa para orangtua
 mendaftarkan anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak
 menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya menyumbang sukarela
 semampu mereka. Kedua, karena firasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter
 yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapatkan pendadaran
 Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun.
 Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke jalan raya di
 seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru. Kami prihatin
 melihat harapan hampa itu. Maka tidk seperti suasana di SD lain yang penuh
 kegembiraan ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD
 Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak
 Harfan.
 Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas
 Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah
 hanya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di
 Belitong ini harus ditutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab
 sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para orangtua cemas karena biaya,
 dan kami, sembilan anak-anak kecil ini yang terperangkap di tengah cemas kalau-kalau kami tak 
jadi sekolah.
 Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini
 Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah
 mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid pada
 kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk
 memnuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati.
 “Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh

 orangtua yang telah pasrah. Suasana hening.
 Paraorangtua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda
 bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaiknya didaftarkan pada para juragan saja.
 Sedangkan aku dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada
 orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah
 tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat
 kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan
 satu murid. Kami menunduk dalam-dalam.
 Saat itu sudah pukkul sebelas kuranglimadan Bu Mus semakin gundah.Lima
 tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia cintai dan tiga puluh dua tahun
 pengabdian tanpa pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu
 ini.
 “Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia
 sudah tak bisa berpikir jernih. Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah
 diketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.
 Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewatlimadan jumlah murid
 tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku
 melepaskan lengan ayahku dari pundakku.Saharamenangis terisak-isak mendekap
 ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu,
 kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air minum, dan tas
 punggung yang semuanya baru.
 Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalami mereka satu per satu.
 Sebuah pemandangan yang pilu.Paraorangtua menepuk-nepuk bahunya untuk
 membesarkan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak
 Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan
 pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan

 kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak
 sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu.
 “Harun!”
 Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjalan
 terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang
 putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf  x sehingga jika berjalan 
seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita gemuk setengah
 baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka
 sahabat kami semua, yang sudah berusialimabelas tahun dan agak terbelakang
 mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri
 kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan menggandengnya.
 Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.
 “Bapak Guru …,” kata ibunya terengah-engah.
 “Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di PulauBangka, dan kami tak
 punya biaya untuk menyekolahkannya kesana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di
 sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku ….”
 Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang-panjang.
 Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya.
 “Genap sepuluh orang …,” katanya.
 Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak.Saharaberdiri tegak
 merapikan lipatan jilbabnya dan menyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk
 lagi. Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya
 yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras.

Creative Go Viral

"Buku Never Too Young To Become BILLIONAIRE"
by: Yasa Singgih
Bab 10

Creative Go Viral
Dalam bisnis dibutuhkan sesuatu packaging/produk yang berbeda dari yang lain agar produk yang kita miliki menarik dan banyak orang yang semakin mengenal produk apa yang kita jual. yang harus di perhatikan dalam packaging produk kita adalah harus memanfaatkan kreatifitas yang ada. berikut hal-hal yang harus di perhatikan: 

1. Unique
produk yang kita miliki dan strategi marketing yang kita miliki harus unik dan menarik agar orang tertarik dengan apa yang menjadi produk kita. 

2. Funny
buat apa packaging dalam produk kita menjadi menyenangkan dan orang-orang sangat merasa terhibur dengan apa yang kita miliki

3. Inspiring
produk yang kita memiliki harus memiliki packaging yang mengispirasi agar-agar ada dampak positif yang bisa berguna bagi masyarakat



Superteam Better than Superman

"Buku Never Too Young To Become BILLIONAIRE"
by: Yasa Singgih


Bab 9

Membangun tim dalam suatu bisnis bukanlah perkara yang mudah. banyak yang harus kita perhatikan sebagai kepala suatu bisnis. cara yang mudah sebagai seorang manajer dalam membangun sebua tim adalah dengan,mempraktikan apa yang menjadi kerjaannya terlebih dahulu. yang harus di perhatikan:

1. saya lakukan- anda perhatikan : berikan mereka contoh,mereka akan memperhatikan
2. saya lakukan-anda lakukan: setelah memperhatikan cara kerja,ajak mereka melakukan pekerjaan bersama
3. anda lakukan-saya perhatikan: biar mereka yang mengerjakan dan kita pantau apa yang mereka kerjakan
4. anda lakukan-saya tidak perhatikan: mereka mengerjakan pekerjaan mereka sendiri tanpa kita perhatikan.

Triangle Strategy

"Buku Never Too Young To Become BILLIONAIRE"
by: Yasa Singgih
Bab 8


emmbangun strategi dalam bisnis sangatlah penting agar bisnis terus melaju pesat. Triangle Strategy atau segitiga PDB sangatlah penting digunakan untuk kemajuan suatu bisnis. konsep PDB di populerkan oleh Bapak Marketing Indonesia, Hermawan Kertajaya. yaitu:

Positioning: Di pasar mana kita ingin bermain?
Diferensiasi: Apa perbedaan anda dengan yang lain?
Branding: Bagaimana anda menyampaikan pesan?

PDB pada Mens Republic:

Positioning: di pasar anak muda usia 17-25thn
Diferensiasi: Bedanya saya membuat branding sendiri dengan tema menjual fashion pria
Branding: Menyampaikan pesan dengan packaging anak muda,dengan memanfaatkan penjualan online yang menarik

Rabu, 13 April 2016

Focus Is Power

"Buku Never Too Young To Become BILLIONAIRE"
by: Yasa Singgih
Bab 7

Focus is Power

Menjadi pengusaha adalah harus memiliki jiwa yang konsisten,tidak boleh latah. dalam artian jiwa yang konsisten harus berprinsip. jika kita sedang bergelut dalam suatu bisnis dan ketika bisnis tersebut belum dalam sistem yang baik jangan pernah kita mencoba membuka bisnis yang lain. yang harus kita lakukan adalah perkuat sistem bisnis yang ada dan temukan kekurangan-kekurangan dari bisnis yang kita miliki agar bisnis kita terus melaju dengan baik dan kita lebih fokus.

memang melihat bisnis lain sangatlah penting,dan meniru pun juga sangat penting. namun balik lagi yang kita tiru adalah valuenya saja atau nilai-nilai yang baik yang bisa kita ambil dari bisnis yang ada. value berbicara mengenai semangat,mind-set,dan mental.

hal-hal yang harus dihindari adalah pemikiran bisnis lain lebih baik,karena akan membuat kita tidak percaya diri menjalankan bisnis yang kita punya, juga belajar bersyukur dengan mencintai apa yang kita punya saat ini tidak perlu dengan yang dimiliki orang lain,justru kita harus melihat peluang baik dari setiap kelemahan yang kita miliki agar menjadi suatu kekuatan kita. 

Phone A Master

"Buku Never Too Young To Become BILLIONAIRE"
by: Yasa Singgih
Bab 6

Phone A Master

Dalam membangun bisnis di butuhkan banyak referensi,panutan,atau orang-orang yang lebih dulu sukses dari kita agar kita bisa belajar banyak dari nya/dari kisah hidupnya.memiliki role model dan mentor sangatlah penting agar kita bisa lebih cepat sampai pada titik kesuksesan yang akan kita raih,karena mereka memiliki ilmu yang lebih banyak, segudang pengalaman baik atau buruk, dan juga ilmu yang tak terhitung banyaknya. selain itu mereka juga memiliki relasi yang luas yang di butuhka untuk anda sebagai mentoring bisnisnya sebagai referensi yang lain. mencari role mode atau mentor harus memperhatikan:

1. Bidang yang sama: dengan bidang yang sama sudah pasti membantu banyak tentang bisnis yang sedang kita jalankan karena garis besarnya sudah pasti sama
2. Sukses dan Gagal Lebih Dulu: belajar dari yang sudah memiliki banyak kegagalan, karena kunci sukses adalah belajar dari kegagalan yang ada
3. Praktisi,bukan teoritis: teori sangatlah penting,namun bisnis lebih banyak bicara mengenai aksi,jadi belajarlah dari aksi-aksi yang dari orang sukses yang sudah dijalankan
4. Attitude is everything: sikap kita terhadap role model/mentor haruslah baik,seperti bagaimana kita menghormati orang tua dan guru kita.
5. Mau dan bisa di transfer: guru yang baik pasti menginginkan muridnya sukses. sudah pasti pilihlah mentor yang tidak pelit ilmu.
6. Murid kencing berlari: seorang mentor terkadang membiarkan muridnya memasuki masa pahit sendirian agar sang murid mandiri menghadapi permasalahan yang ada